Sunday, June 9, 2019

3 Alasan Memilih Airbnb Ketimbang Hotel atau Hostel

Jika sedang berlibur sendiri, saya akan hampir selalu pilih untuk menginap di hostel karena harganya yang jauh lebih murah dan berhubung saya akan lebih sering jalan-jalan jadi tidak membutuhkan banyak privasi. Walaupun belakangan saya mulai merasakan butuh kamar mandi sendiri, tapi berhubung harganya beda jauh jadi ya pilih hostel lagi.

Berbeda kalau liburannya dengan keluarga atau liburan sendiri tapi nggak pengen banyak jalan-jalan, hotel menjadi pilihan saya. Alasannya tentu karena butuh kenyamanan yang lebih. Ini juga milihnya telaten banget supaya bisa dapet hotel yang paling oke alias best value for money.

Namun selain hostel dan hotel, udah beberapa kali saya pilih untuk menginap di Airbnb. Airbnb memiliki konsep berupa penyewaan kamar, apartemen, rumah, atau villa kepada penginap. Saya baru 4 kali mencoba Airbnb, mungkin masih tergolong sedikit dengan yang lainnya yang suka banget nginep di Airbnb karena lagi nge-trend belakangan ini. Sebenernya saya nggak begitu suka menginap di Airbnb karena berasa numpang di rumah orang, walaupun udah pilih yang entire place. Oleh karena itu saya coba cari benang merah dari keempat pengalaman saya memilih Airbnb tersebut dan menemukan bahwa ada tiga alasan utama mengapa saya akhirnya memilih untuk menginap Airbnb.

Cancun, Mexico

Friday, May 31, 2019

Terbang dengan Oman Air 787 Business Class dari Muscat ke Jakarta

Sebagai orang yang rutin baca One Mile at a Time, saya jadi kebanyakan bermimpi pengen naik business dan first class berbagai maskapai. Seneng karena bisa merasakan jadi orang penting dalam beberapa jam, sedih karena harga business dan first class itu mahal banget jadi sebenernya suka sayang sama uang (atau miles) yang dikeluarkan.

Setelah Ben menuliskan review business class-nya Oman Air dan kemudian mengeluarkan daftar jenis kursi business class terbaik, saya penasaran dengan Apex Suite yang reviewnya bagus sekali dan dinobatkan sebagai kursi business class terbaik kedua, di bawah Qsuite (yang terima kasih karena “racun” dari dia juga saya pernah mencobanya).


Oleh karena itu begitu Oman Air kasih harga yang murah ditambah promo dari Traveloka yang menyebabkan tiket PP dari Jakarta ke Paris bisa didapatkan dengan harga Rp 4,5 juta dan terlebih lagi Oman Air punya program bid upgrade dimana penumpang bisa membayar untuk upgrade dari ekonomi ke bisnis, saya langsung issued tiket. Sempet bingung mau bid upgrade apa nggak karena harganya sama kayak tiket PP padahal business class-nya cuma 1 aja dari 4 flight, tapi akhirnya saya memutuskan untuk bid dan dapet! Daripada saya pusing karena kepikiran bayar upgrade 1 flight seharga tiket PP ke Eropa, saya memutuskan untuk melihatnya dari sudut lain, yakni bayar tiket PP ke Eropa Rp 9 juta, bisa cobain salah satu business class terbaik dunia!

Disclaimer: saya akan banyak melakukan perbandingan dengan Qatar Airways karena jujur ekspektasi saya tinggi berhubung bayar (walaupun diskonan) dan saya beranggapan Oman Air ini sedang membenahi diri supaya bisa sejajar level prestige-nya dengan Middle East 3 (Emirates, Etihad, Qatar Airways). Selain itu saya beberapa kali naik Qatar Airways juga jadi lebih tau apa yang bisa didapatkan oleh penumpang business class.

CHECK-IN
Tiba di Muscat International Airport, saya menuju area khusus penumpang business dan first class yang terletak di pojokan. Nggak semegah area check-in-nya Qatar Airways di Doha, tapi tetep berasa eksklusifnya. Sebagai penumpang business class saya mendapatkan jatah bagasi seberat 50kg. Karena saya member Sindbad Silver, dapet tambahan 10kg lagi jadi total 60kg.



Banyak terdapat kursi yang bisa dipakai sambil nunggu. Namun karena malam itu kosong, jadi proses check-in berjalan dengan cepat. Selesai check-in, ada jalur imigrasi khusus. Security check sebenernya masih sama lokasinya dengan penumpang lain, tapi ada 2 line yang dikhususkan untuk penumpang premium.


LOUNGE
Naik satu lantai untuk menuju business class lounge-nya Oman Air. Ini akan saya tuliskan review-nya terpisah, tapi secara singkat: makanan enak (banget!), kursi banyak, design cantik, tapi berasa sempit (sepertinya karena ceiling yang rendah).

Oman Air WY849
Muscat (MCT) to Jakarta (CGK)
STD: 02.20 (GMT+4)
STA: 13.20+1 (GMT+1)
Boeing 787-9

BOARDING AND CABIN
Boarding sangat berantakan prosesnya. Semua penumpang dipersilakan masuk ke pesawat secara bersamaan yang menyebabkan langsung pada rusuh. Aneh banget karena 3 penerbangan saya sebelumnya dengan Oman Air mempersilakan penumpang business class serta elite member Sindbad (frequent flyer programnya) untuk masuk pesawat terlebih dahulu.

Terdapat 30 kursi business class yang terbagi menjadi 2 bagian, yakni bagian depan (antara pintu pertama dan kedua) ada 24 kursi dalam 4 baris dan 1 baris terletak bagian belakang setelah pintu kedua. Kursi business class memiliki layout 2-2-2.

Denah kursi (source)




Monday, May 20, 2019

Sekarang Beli Tiket Pesawat Multi-city Bisa Lebih Murah Lagi!

Breaking News: akhirnya sekarang udah bisa pesen tiket pesawat multi-city di Traveloka!!!

Apa artinya? Sebagai pencinta diskonan, berarti sekarang beli tiket multi-city juga bisa lebih murah lagi karena dapet diskon tambahan! Selama ini saya pesen tiket multi-city cuma bisa dari website airlines atau online travel agent luar kayak Expedia yang nggak memberikan diskon. Untungnya masalah ini sudah tidak berlaku dengan tersedianya fitur multi-city di Traveloka. Alhamdulillah!

Oke sebelum saya menjelaskan bagaimana cara mendapatkan diskonnya, saya jelaskan dulu apa itu tiket pesawat multi-city. Sebenernya saya udah sering banget sih menjelaskan, bahkan sering kasih tau harga tiket yang miring banget setelah otak-atik multi-city ini. Contohnya adalah tiket PP ke Eropa yang bisa didapatkan dengan harga di bawah Rp 5 juta dan ini udah berulang kali kejadian yakni Rp 4 jutaan ke Turki tahun 2013, lalu Rp 4 jutaan ke Eropa tahun 2015, serta Rp 4 jutaan lagi ke Eropa tahun 2017.

Budapest, Hungary

Apa itu penerbangan multi-city?
Sesuai namanya, multi-city berarti kamu bisa mengunjungi beberapa kota dalam 1 tiket pesawat. Bingung? Oke saya jelasin lebih lanjut.

Kalau sebelumnya kamu tau tiket pesawat itu cuma bisa dibeli untuk sekali jalan (contoh: Jakarta – Amsterdam) atau pulang pergi ke kota yang sama (contoh: Jakarta – Paris – Jakarta), dengan multi-city kamu bisa beli tiket dengan 2 destinasi seperti Jakarta – Amsterdam lalu pulangnya Paris – Jakarta. Menarik banget kan?! Sangat bermanfaat buat kamu yang mau eksplor banyak tempat di destinasi liburan. Dengan fitur ini, kalo kamu mau jalan-jalan di Eropa yang pasti pengennya mengunjungi semua negara (berlebihan), kamu bisa masuk dari kota A dan keluar dari kota B. Nggak perlu deh buang-buang waktu dan uang untuk balik ke kota A lagi.

Zaanse Schaans, Amsterdam, Netherlands

Saturday, May 11, 2019

Pengalaman Transit di Muscat, Oman: Berat di Ongkos!

Akhir tahun lalu saya beli tiket ke Paris secara impulsif karena harganya yang murah, sekitar Rp4,4 juta dengan maskapai Oman Air. Jika perjalanan saya dari Jakarta ke Paris dengan Qatar Airways memakan waktu 19 jam, kali ini perjalanan memakan waktu 34 jam. Sekitar 8 jam perjalanan dari Jakarta ke Muscat dan 8 jam lagi dari Muscat ke Paris, sisanya selama 18 jam dihabiskan transit di Muscat. Ini karena Oman Air hanya memiliki 1 penerbangan setiap hari dari Muscat ke Jakarta dan Paris.

Sultan Qaboos Grand Mosque, Muscat, Oman

“Biarin lah, murah ini tiketnya. Lumayan bisa sekalian liat-liat Muscat,” pikir saya waktu beli tiketnya. Tapi ternyata salah! Karena dengan tiket Rp4,4 juta, saya menghabiskan tambahan lebih dari setengahnya yakni sekitar Rp2,4 juta untuk 2 kali transit di Muscat. Ini jatuhnya malah lebih mahal dibanding maskapai Etihad yang harga tiket PP-nya Rp4,8 juta kala itu dengan waktu transit di Abu Dhabi yang sekitar 3 jam saja.

Oman Air B787-9

Apa detail pengeluaran saya selama di Muscat?

Visa
Sebagai pemegang paspor Indonesia, saya harus memiliki visa untuk memasuki Oman. Untungnya visa bisa didapatkan saat tiba di Muscat (visa on arrival) atau secara online. Berhubung saya males apply online, jadi saya apply ketika mendarat saja. Apa bedanya? Pertama, harga. Harga visa sama-sama 5 Omani Rial (~Rp190.000), namun kalau apply di bandara ada biaya administrasi sebesar 1 OMR (~Rp38.000). Pembayaran di bandara bisa menggunakan kartu kredit atau tunai. Kedua, menurut saya yang males persiapan pilihan apply di bandara lebih praktis karena gampang banget. Tinggal datang ke meja pengurusan visa, kasih paspor, kasih uang, jadi! Hanya butuh waktu sekitar 5 menit dan nggak perlu print visa seperti kalau apply online. Kalo maunya apply online, bisa lewat halaman ini.

Visa receipt

Berhubung saya 2 kali transit 18-19 jam di Muscat, jadi biaya yang saya keluarkan adalah 12 OMR (~Rp456.000).

Sunday, April 28, 2019

Pengalaman Pertama Trekking di Torres del Paine, Patagonia, Chile

Berawal dari melihat gambar Las Torres (The Towers) sekitar 2 tahun lalu, saya berkeinginan untuk melihatnya secara langsung. Sehingga begitu saya memilih untuk menuju Patagonia, melakukan trekking untuk melihat The Towers hampir pasti harus dilakukan.

Maap kotor, susah editnya biar kabutnya ilang terus emang gak jago photoshop :(

Tentang Trekking di Torres del Paine
Di Chilean Patagonia terdapat beberapa jenis trekking berhari-hari, yakni W Trek, Q Trek, dan O Trek. Hal yang membedakan ketiganya adalah rute yang diambil dan durasi yang dibutuhkan.

Rute W, O, dan Q Trek (source)

Karena sadar atas kemampuan fisik dan keterbatasan waktu, nggak mungkin saya melakukan salah satu dari ketiganya. Untungnya ada jenis trekking lain yang hanya membutuhkan waktu sehari, yakni day hike to the base tower. Akhirnya saya cari tau lebih lanjut dan memutuskan untuk melakukan ini karena dengan ini saya bisa melihat The Towers secara langsung.

Day trekking ini memiliki jarak 20 kilometer (saya ambil rata-rata aja, ada yang bilang 17 - 24 km) dari awal hingga selesai. Jalur yang digunakan saat berangkat dan kembali adalah sama, sehingga jarak sekali jalan adalah 10 kilometer. Durasinya berkisar dari 7 jam hingga 10 jam, tergantung kecepatan trekker. Medan yang ditempuh bervariasi tingkat kesulitannya, mulai dari rendah hingga tinggi, mulai dari jalan datar sampai kemiringan 45 derajat, mulai dari jalan setapak hingga jalan penuh bebatuan.

Rute trekking ke Mirador Las Torres (Lookout Base Tower)

Saturday, April 13, 2019

Lounge Review: Al Safwa First Class Lounge Doha

Salah satu manfaat terbang di kelas non-ekonomi adalah mendapatkan akses ke lounge sambil menunggu penerbangan. Qatar Airways memiliki beberapa lounge di Doha, yakni:
  • Business Class Lounge: untuk member Privilege Club tier Silver dan Gold serta oneworld Sapphire
  • First Class Lounge: untuk member Privilege Club tier Platinum serta oneworld Emerald
  • Al Mourjan Business Lounge: untuk penumpang business class Qatar Airways dan maskapai oneworld lain
  • Al Safwa First Lounge: untuk penumpang first class Qatar Airways dan maskapai oneworld lain
Setelah pernah mencoba ketiga lounge pertama, akhirnya saya bisa mencoba “true” first class lounge-nya Qatar Airways!

Location
Dari departure area, penumpang bisa menuju Al Safwa yang terletak 1 lantai di atas. Petujuk yang diberikan cukup jelas, terutama kalau sudah ketemu boneka beruang kuning raksasa. Setelah tiba di atas eskalator, akan disambut oleh petugas di main reception desk. Saya bilang main karena sebenernya ada pintu masuk lain, yakni kalau penumpangnya melakukan check-in dari Doha dan melewati imigrasi khusus. Nanti akan ada akses terpisah untuk langsung menuju Al Safwa tanpa perlu ke main departure area. Ekslusif!

Main reception


Reception desk direct from immigration

Sunday, March 31, 2019

Office Graduation Trip Part 2: Yogyakarta

Akhir pekan kali ini saya habiskan di Singapore untuk menghadiri pernikahan Valerie dan Jason. Pas lagi bengong nungguin boarding dalam rangka pulang kemudian tersadar bahwa saya belum nulis tentang liburan ketika Valerie resign dari kantor.

Secara nggak resmi, setelah Office Graduation Trip part 1 ke Singapore dalam rangka merayakan lulusnya Tazkia dari kantor, kami berdelapan berniat untuk selalu jalan-jalan bareng ketika ada yang lulus dari kantor. Sebulan setelah Tazkia lulus, Valerie mengikuti langkahnya.

p.s.: Mereka berdua akhirnya kembali lagi ke kantor tercinta walaupun di cabang berbeda. Masih belum ditentukan apakah kita akan liburan kembali ketika mereka resign lagi.

Yogyakarta dipilih karena harga tiketnya yang terjangkau. Sebenernya antara Yogya atau Kuala Lumpur, tapi semua ngerasa nggak banyak yang diliat di Kuala Lumpur. Setelah destinasi serta tanggalnya ditentukan, Valerie dengan sangat sigap langsung pesen hotel.

Hotel Adhisthana Yogyakarta

Hari 1
Semua ambil flight pagi dari Jakarta kecuali saya. Hal ini dikarenakan saya ada undangan ke nikahan temen, jadi ambil flight yang siang supaya bisa datang ke resepsinya dulu. Begitu tiketnya udah dibeli saya baru sadar kalo resepsinya adalah di keesokan hari… Ruginya double deh, udah hilang setengah hari di Yogya, nggak bisa dateng ke nikahan temen juga :(

Wednesday, February 27, 2019

Itinerary Liburan di Negara-Negara Balkan

Sebenernya perjalanan ini terjadi bukan karena saya pengen banget ke Balkan. Melainkan karena saya pengen menggunakan benefit free upgrade dari economy class ke business class sebagai Gold Member-nya Qatar Airways Privilege Club. Sama ceritanya dengan liburan ke Polandia dan Baltik di tahun sebelumnya. Setelah bongkar pasang rute supaya nemu harga tiket Qatar Airways yang bisa upgrade ke business class dan menggunakan Qsuite, terpilihlah destinasi liburan di negara-negara Balkan.

Mostar, Bosnia and Herzegovina

ITINERARY 
Hari 0: Jakarta – Hong Kong
Terbang pagi hari dari Jakarta ke Hong Kong lewat Singapore. Walaupun niatnya nunggu di bandara aja selama di Hong Kong, tapi akhirnya bosen dan ke kota karena pesawat dari Singapore mendarat jam 5 sore sementara pesawat ke Doha baru akan terbang tengah malam. Menyempatkan diri ke tengah kota untuk ngetes seberapa wide lensa baru. Sengaja foto di tempat yang sama supaya keliatan bedanya hahaha noraknya.

Hari 1: Hong Kong – Sarajevo – Mostar (Bosnia & Herzegovina)
Tengah malam terbang dengan Qatar Airways menuju Doha sebelum lanjut ke Sarajevo. Penerbangan sekitar 8,5 jam dari Hong Kong ke Doha dan 5,5 jam dari Doha ke Sarajevo. Setelah perjalanan panjang, akhirnya saya mendarat di Sarajevo jam 11 pagi.

Economy class rasa business class :))

Menyempatkan keliling kota Sarajevo dengan jalan kaki dan geret koper karena nggak nemu tempat penitipan koper di tengah kota. Sehingga keliling di Old Town aja dan ngeliatin burung dara di sekitar Sebilj.

Old Town Sarajevo

Sarajevo

Sekitar jam 3 sore saya menuju terminal untuk naik bis selama 3 jam ke Mostar. Sampai Mostar langsung ke hostel dan tidur.

Sunday, January 27, 2019

Jambu Ke… YouTube?!

Sejak Agustus tahun lalu saya mencoba mengaktifkan Google Ads di blog saya. Sebenernya niat awalnya adalah pasang ads ketika page view tembus 1 juta, tapi baru sempet set-up beberapa bulan kemudian. Kenapa 1 juta? Karena saya nggak mau pas view-nya masih sedikit blognya udah banyak iklan :p

Walaupun rasanya masih dikit “hasil”-nya, rasanya seneng kalo dari blog ini bisa menghasilkan uang secara "otomatis". Belum bisa cair sih karena masih di bawah threshold pembayaran berhubung selain masih dikit yang view dan klik, sempet error sana-sini juga dan saya nggak ngeh selama beberapa minggu. Tapi lumayan lah ya, better to have something than nothing. Seenggaknya biaya bayar domain udah mulai nutup hahaha.


Nah, melihat hasil dari Google Ads di blog, saya jadi kepikiran untuk enable ads di YouTube juga. Ini karena belakangan saya lagi suka nonton YouTube dan nyadar kalo udah banyak video-video yang dipasangin iklan. Jadilah saya upload beberapa video dan cari tau gimana cara pasang iklannya. Ternyata eh ternyata, YouTube mengharuskan akun untuk memiliki 1.000 subscribers serta total waktu tonton selama 4.000 jam dalam 1 tahun terakhir. Berhubung nggak pernah diurus, jadi saya masih jauh untuk mencapai threshold itu. Oleh karena itu melalui tulisan itu saya meminta kalian untuk nonton video saya, abis di-play gak apa-apa kok ditinggal buka tab lain, asal jalan videonya hahaha.

Sunday, January 20, 2019

Empat Minggu Bolak-Balik ke Kuala Lumpur

Pada awal November lalu, Malaysia Airlines mengadakan “amazing sale” (saya namain gini aja karena nggak mau menggunakan kata yang depannya E fare). Pada “amazing sale” ini, tiket pulang pergi dari Jakarta ke Kuala Lumpur dengan business class bisa didapatkan dengan harga Rp500ribu saja!

Rencana awal saya adalah mau menghabiskan tahun baru di Myanmar karena harga tiket dari KL ke Yangon masih sangat masuk akal di peak season. Sehingga saya beli tiket Jakarta ke Kuala Lumpur dulu, tiket ke Yangon-nya beli belakangan. Setelah beli 1 tiket, saya kemudian membeli beberapa tiket lagi dengan rencana yang berbeda.

View from Grand Hyatt Kuala Lumpur

Faktor utama yang membuat saya beli beberapa tiket adalah karena pengen mencoba business class-nya Cathay Pacific yang rate-nya reasonable jika menukarkan British Airways Avios untuk rute Singapore – Hong Kong. Jadinya miles dari terbang dengan Malaysia Airlines ini akan saya kreditin ke British Airways. Sayangnya “amazing sale” tersebut berakhir sebelum saya membeli tiket dengan jumlah yang diperlukan. Agak sedih tapi ya sudah sepertinya program Avios + Money-nya British Airways punya rate yang oke juga.

Hari ini saya kembali tiba di Jakarta setelah penerbangan ke-delapan dengan Malaysia Airlines business class secara berturut-turut. Banyakan berasa excited-nya dibanding capeknya :p Jadi gini rasanya business traveler yang sering pergi ke luar negeri dengan business/first class. Enak juga, jadi pengen! #careergoal

Lewat tulisan ini saya mau menyampaikan highlight yang saya lakukan selama menghabiskan 4 akhir pekan di Kuala Lumpur.