Sunday, January 31, 2021

Hari 3: Memulai Liburan di Rio dengan Drama

Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 waktu Rio begitu saya selesai dengan urusan imigrasi dan custom. Namun walaupun baru tiba dan capek setelah perjalanan jauh, saya langsung dihadapkan dengan 2 masalah.

GaleĆ£o International Airport, Rio de Janeiro, Brazil

Setibanya di arrival hall, saya mencari orang yang akan mengantarkan saya ke hostel. Saya menemukan seorang pemuda yang memegang kertas bertuliskan nama saya. Alhamdulillah lancar, pikir saya. Ternyata tidak semudah itu, kawan. Setelah diminta duduk, saya diinfokan bahwa bukan dia yang akan mengantar saya jadi harus nunggu mobilnya dulu. Kemudian saya ditanya apakah sudah punya Real (mata uang Brazil). Berhubung sebelum berangkat saya baca banyak scam yang berhubungan dengan uang bahkan di bandara seperti ATM yang sudah disadap, saya jadi sangat hati-hati. Udah uangnya sedikit, kalo dibawa kabur orang, makan pake apa saya nanti? Oleh karena itu saya bilang belum punya tapi saya mau tuker uang sendiri aja.

Suasana Arrival Hall

Jadilah saya ke satu-satunya money changer di arrival hall dan menukarkan 200 USD yang saya hitung cukup untuk 3 hari di Brazil. Saya menukarkan uang tanpa cek rate di Google terlebih dahulu dan mendapatkan sekitar 536 BRL. Setelah menukarkan, saya cek google dan berdasarkan kurs Google, 200 USD setara dengan 700 BRL. Wow saya rugi kurs 23%!!! Rugi kursnya 17% terus ditambah ada komisi 10%. Rampokkk! Berhubung salah saya, jadi yaudah dijadikan pelajaran aja untuk selalu cek rate di Google dan pastikan nggak ada komisi yang diminta. Ini bener-bener forex loss terparah saya selama ini. Tapi kalo berusaha melihat sisi positif, seenggaknya saya jadi udah punya Real jadi bisa hidup. Toh emang cuma ada 1 money changer dan ATM termasuk berbahaya.

Money Changer
Blogger Tricks

Thursday, December 31, 2020

2020: Year in Review

Hari ini di tahun lalu saya mengakhiri post year in review tahun 2019 dengan kalimat "Let’s see what 2020 brings! Really excited!". Little did I know 2020 brings the very unexpected: a global pandemic.

Kalo biasanya tulisan year in review itu kebanyakan tentang perjalanan yang dilakukan sepanjang tahun, tahun ini beda karena saya "cuma" terbang 8 kali, itu juga business trip semua di bulan Januari dan Februari. Perjalanan terakhir di Februari itu ketika COVID-19 mulai menyebar, pesawat dan bandara sudah mulai sepi, serta ketika batuk di publik itu sudah sebisa mungkin dihindari supaya gak diliatin orang.

Dengan sangat naifnya di awal Maret saya tetap mengurus business visa supaya nggak perlu khawatir karena kalau business trip pas lewat imigrasi selalu menggunakan alasan liburan. Ini jadi sebuah pencapaian sendiri juga karena huru-hara pengurusannya sudah dimulai dari bulan Juni tahun lalu dan 9 bulan kemudian baru akhirnya stiker visanya tertempel di paspor. Karena suasana belum kondusif, saya tidak langsung berangkat. Ternyata 2 minggu setelahnya pemerintah Thailand mengumumkan lockdown dan semua orang asing tidak boleh masuk ke negaranya. Udah expired sekarang visanya tanpa saya pakai. Nasib.

Kasih foto iga bakar penyet-nya Warung Leko karena ini jadi salah satu highlight 2020 di mana belakangan ini saya jadi sering banget makan untuk membahagiakan diri sendiri...

Akibat Pandemi
Sebagai karyawan perusahaan teknologi yang berfokus pada bidang travel, pandemi memberikan pengaruh negatif yang sangat signifikan. Saya ketar-ketir ketika perusahaan mengambil keputusan untuk mengoptimisasi jumlah tenaga kerja yang dilakukan selama beberapa gelombang dalam beberapa minggu. Alhamdulillah rejeki saya masih di perusahaan ini. 

Sunday, November 29, 2020

27

Sudah tiga hari saya menginjak usia 27 tahun. Walaupun saya ingin untuk konsisten menuliskan postingan rutin tahunan setiap tanggal 26 November, belakangan lagi ada urusan yang cukup menyita waktu. Alhasil kemarin baru ada waktu luang sekitar 15 menit sebelum tanggal 26 November berakhir, itu pun udah keburu ngantuk. Jadilah baru bisa nulis sekarang.


Mendoakan untuk selalu dalam kondisi sehat tentu saja jadi highlight birthday wishes tahun ini, padahal 1-2 tahun terakhir banyakan doa supaya cepet dipertemukan dengan jodoh. Gimana mau ketemu jodoh kan orang lagi dikurung gini :))

Later that day saya dapet kiriman dari Priya, temen kerja pertama saya di kantor. Enak banget donatnya Union ini walaupun isinya terlalu beleberan. Terima kasih, Priya!


Saturday, October 3, 2020

Review: British Airways 777-200ER Economy Class London to Rio de Janeiro

Pesawat dari Brussels mendarat di Terminal 5, sama dengan pesawat selanjutnya menuju Rio de Janeiro. Walaupun demikian, saya tetap harus melakukan proses transfer yang menurut saya cukup rumit. Bandara Heathrow merupakan salah satu bandara tersibuk di dunia sehingga kala itu bagian transfer ramai sekali. Tahap pertama adalah melalui pengecekan boarding pass, kemudian tahap berikutnya adalah pengecekan barang. Pada tahap pengecekan barang ini liquid harus dipisahkan dan dimasukkan ke kantong Ziploc yang sudah disediakan. Jika ketika melewati x-ray mesin berbunyi, sepenglihatan saya proses pengecekan lanjutannya ribet sekali. Oleh karena itu pastikan semua kantong kosong, tidak ada logam di badan, serta tidak ada liquid yang tertinggal di tas.



Walaupun sama-sama Terminal 5, tidak semua gate berada di gedung utama. Terdapat satellite builing B dan C yang biasanya digunakan untuk penerbangan jarak jauh. Dari gedung utama ke satellite building bisa menggunakan kereta atau jalan kaki. Berhubung jauh, saya naik kereta ke Terminal 5C. Nuansa di Terminal 5C sangat jauh beda dengan gedung utama karena sepii.


Saya menghabiskan waktu transit yang hampir 5 jam dengan duduk-duduk di terminal sambil lihat pesawat.


Wednesday, September 30, 2020

Review: British Airways A321 Economy Class Brussels to London

Berhubung pesawat dari Brussels ke London dijadwalkan terbang jam 07.20, saya set alarm jam 05.00. Namun tetap aja sebelum jam 5 udah kebangun. Namanya tidur di bandara ya jadi nggak ada nyamannya, apalagi waktu itu udara cukup dingin. Akhirnya kucek-kucek mata, duduk, dan main handphone dengan memanfaatkan wifi gratis yang diberikan oleh bandara.


Counter check-in dibuka sekitar 2 jam sebelum berangkat. Dengan tiket yang saya miliki, saya mendapatkan jatah bagasi 32 kg. Bagasi saya akan diteruskan sampai tujuan akhir yakni Rio de Janeiro dan karena transitnya 5 jam, diberikan tag “LONG TRANSFER” juga. 


Setelah check-in dan melewati imigrasi, saya kelaparan karena baru inget kemaren cuma makan dari pesawat, snack di Thalys, dan waffle. Akhirnya beli panini yang ada telurnya seharga 7.95 EUR. Lumayan mengenyangkan ternyata karena porsinya gede. Karena haus, beli air mineral juga yang harganya 3.3 EUR cuma dapet 500 mL :(



Selesai makan saya berjalan menuju gate dan menyaksikan matahari mulai terbit.


Di gate sudah ada pesawat British Airways A321 yang akan membawa saya menuju bandara Heathrow di London.