Thursday, October 24, 2019

Pengalaman Perpanjang Paspor Elektronik

Wah ternyata saya bisa merasakan paspor habis sebelum masa berlakunya berakhir! Paspor pertama saya berakhir masa berlakunya dengan menyisakan sekitar 8 halaman kosong, dan sekarang paspor kedua saya habis halamannya dalam 3 tahun 3 bulan. Sebenernya masih ada bagian kosong untuk cap, tapi karena ada keperluan yang memerlukan halaman kosong jadi mau nggak mau harus bikin paspor baru.

Paspor baru!

Pengambilan Nomor Antrian Online
Setelah membaca beberapa blog terbaru tentang pembuatan dan perpanjangan paspor, kantor imigrasi Jakarta mengharuskan pemohon untuk memiliki nomor antrian terlebih dahulu. Nomor antrian ini bisa dipilih secara online.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan registrasi di halaman ini (https://antrian.imigrasi.go.id). Data yang dimasukkan standar dan mudah dilakukan. mereka inginkan.

Setelah melakukan pendaftaran, kalian harus memilih di mana permohonan dilakukan dan kemudian memilih slot tanggal yang diinginkan. Setelah konfirmasi data, kalian telah resmi memiliki nomor antrian.

Tips:
  • Lakukan registrasi ini di hari Senin – Kamis karena hari Jumat website jadi lemot banget berhubung kuota permohonan ditambahkan hari ini dan orang-orang rebutan untuk mendapatkan jadwal yang
  • Kuota dibuka setiap minggu. Kalian harus standby hari Jumat siang minggu sebelumnya (info yang saya baca, tepatnya jam 2 siang) karena kuota baru untuk minggu depannya dibuka di waktu tersebut. Misal kalian ingin mengajukan permohonan hari Senin, 4 November 2019, maka kalian harus standby jam 2 siang pada hari Jumat, 1 November 2019.
  • Saya sendiri lupa untuk standby jam 2 siang dan baru akses sekitar jam 6 sore. Akses lewat komputer lemot banget bahkan untuk sign-in aja susah. Saya coba lewat aplikasi dan untungnya lebih lancar. Jadi saya sarankan untuk download aplikasinya.
  • Kantor Imigrasi Jakarta Selatan sangat populer sehingga ketika saya bisa akses, slot Senin dan Selasa sudah habis. Akhirnya saya memilih Jakarta Pusat dan bersyukur karena setelah membandingkan dengan pengalaman teman di Jakarta Selatan dan Barat, lewat Pusat ini lebih cepat pembuatannya. Nanti saya jelaskan di bagian bawah.
  • Ada beberapa bagian di design aplikasinya yang tidak user friendly, misalnya setelah memilih jadwal pertanyaan kebutuhan untuk pembuatan baru atau perpanjangan. Saya otak-atik pilih perpanjangan selalu gagal pas pengisian data. Akhirnya saya pilih pembuatan baru setelah baca di Twitter nggak masalah pilih yang mana pun di tahap ini.
  • Terdapat aturan yang sangat ketat yakni setiap pemohon hanya bisa mendapatkan antrian online 1 kali dalam 30 hari. Berdasarkan penjelasan yang saya baca di Twitter, ini dikarenakan banyak orang yang setelah dapat nomor antrian tidak datang di jadwal yang mereka pilih sehingga buang-buang kuota padahal banyak yang butuh antrian. Karena masalah design yang nggak oke tadi, setelah saya mendapatkan nomor antrian saya menyadari jenis antrian saya termasuk ke pembuatan baru, bukan perpanjangan. Oleh karena itu dengan polosnya saya batalkan nomor antrian dan salah saya juga nggak membaca dengan detail warning-nya. Hasilnya saya panik karena butuh paspor urgent namun nggak bisa dapet nomor antrian.
  • Alhamdulillah ada info di Twitter yang bilang kalau kejadian seperti ini, bisa buat akun anggota keluarga dalam satu kartu keluarga lalu ditambahkan diri kamu sendiri ke dalam daftar pemohon. Akhirnya saya buatin account pakai data KTP adik saya dan berhasil mendapatkan nomor antrian. Namun pastikan anggota keluarga ini nggak akan perpanjang paspor di tanggal berbeda dalam rentang 30 hari setelah kalian perpanjang.

Blogger Tricks

Wednesday, October 23, 2019

Rabu, 23 Oktober 2019

Wah udah lama ternyata nggak nulis blog tentang kejadian di suatu hari. Tadi jadinya ngecek-ngecek tulisan lama yang wow menarik sekali hidupku jaman dulu semuanya diceritain kayak nggak ada beban haha. Terakhir nulis di tahun 2011, kemudian ada cerita kejadian dalam satu hari penuh di tahun 2009 seperti ini ini ini dan ini.

Tadi lagi bengong di jalan terus kepikiran untuk bikin cerita tentang hari ini berhubung menarik dan bikin mikir. Semoga suatu saat nanti saya bisa baca lagi tulisan ini dan senyum-senyum sendiri :)) Here goes.

Hari ini saya lagi berada di Bangkok, Thailand, karena ada urusan kerjaan. Saya berangkat hari Minggu (20 Oktober) dan balik ke Jakarta hari Kamis (24 Oktober). Entah kenapa lupa banget kalo hari ini (Rabu, 23 Oktober) merupakan hari libur. Jadi pas hari Senin set meeting, ada yang nyamperin dan bilang "Can we reschedule the meeting? Wednesday is public holiday". Ups! Kemaren sempet kepikiran mau day trip ke Myanmar tapi nggak jadi karena alhamdulillah masih waras untuk nggak hambur-hamburin uang dan udah janjian juga buat pergi bareng sama Ojan ke sana. Jadilah hari ini seharian di hotel aja menikmati kasur sambil ndusel.

Bangkok!

Berhubung di Indonesia masih hari kerja normal, jadi ya masih balesin orang untuk discuss juga. Selain itu ada meeting lewat Google Hangout dan baru kelar sekitar jam 2 siang. Kelar call, laper banget dan langsung beberes buat cari makan. Biasanya kalo makan di food court deket hotel. Makanannya murah (50-80 Baht), rasanya udah cocok, dan tempatnya bersih juga. Tadi entah kenapa nggak kepikiran dan maunya ke mall aja, bosen kali ya?

Saturday, October 19, 2019

Apa yang Seharusnya Dirasakan Setelah Spa?

Saya bukan orang yang suka “memanjakan” badan lewat pijat atau spa. Paling yang pernah saya lakukan adalah minta dikerokin Mama kalo berasa masuk angin, itu juga tiap dikerokin selalu uget-uget sampe suka ditabok punggungnya karena nggak bisa diem. Abis dikerokin, saya hampir selalu bisa merasakan kalau badan menjadi lebih segar dan entah kenapa yang awalnya berasa mau sakit, nggak berasa lagi. Oleh karena ini juga di dua perjalanan terakhir saya yang jauh ke Chile dan Amerika Serikat, saya menyempatkan untuk minta dikerokin sama Mama biar badannya lebih enak.

Kalo mendengar kata "spa", yang ada dipikiran saya adalah sebuah kemewahan. Beda dengan pijat atau urut yang terdengar lebih merakyat. Oleh karena itu seumur hidup baru 4 kali ngerasain spa dan itu semua gratisan. Nggak ikhlas rasanya ngeluarin uang untuk spa atau pijat ketika dikerokin Mama masih gratis :p

Dalam post ini saya mau menceritakan keempat pengalaman spa karena setelah spa selalu bingung apa yang seharusnya saya rasakan.

Spa 1: Four Seasons Hotel Jakarta
(full body, 45 menit)

Ketika staycation di Four Seasons Jakarta di tahun 2017, ternyata paket yang saya beli termasuk full body massage selama 45 menit untuk 2 orang. Berhubung waktu itu saya nginep sendiri, bisa digabung waktunya jadi 90 menit. Namun sayang karena lupa reservasi jadi slot waktunya habis.

Jujur waktu itu excited dan penasaran juga dengan yang spa ini karena baru pertama kali. Ketika datang ke lobby spa-nya, diarahkan ke ruangan oleh masseuse-nya. Saya diberikan bungkusan berisi beberapa barang dan diminta ganti baju, terus dengan begonya saya nanya “ini saya nggak pakai apa-apa nanti pas dipijat?” Masseuse-nya menjelaskan kalo di dalam bungkusan terdapat disposable underwear yang bisa dipake, jadi nggak telanjang bulet.

Spa Room

Kelar melepaskan pakaian, saya keluar dan diminta duduk dan merendam kaki ke baskom berisi air hangat dan campuran garam laut, kemudian masseuse-nya mulai memijat kaki. Setelah mungkin sekitar 5-10 menit, saya diminta naik ke kasur (atau papan?) pijat dan diminta tengkurap. Enak banget mijetnya sampe saya sempet ketiduran dan dibangunin ketika massage-nya selesai.

Saturday, October 12, 2019

Pengalaman Mengurus Visa Amerika Serikat

Dalam rangka liburan ke Amerika Serikat, saya harus mengurus visanya yang mahal dan punya momok kuat atas kesulitannya. Padahal statistiknya bilang sekitar 90% warga Indonesia diterima pengajuan visa Amerika-nya. Segitu bikin parnonya tapi.

Brooklyn Bridge, New York

Berikut adalah cerita saya mengajukan aplikasi visa Amerika Serikat untuk keperluan liburan.

Pengisian Formulir DS-160
Langkah pertama yang saya lakukan kemarin adalah mengisi form DS-160 di halaman berikut https://ceac.state.gov/genniv/default.aspx.

Berikut adalah halaman depan web untuk mengisi form DS-160. Di sebelah kanan ada pilihan untuk memulai mengisi formulir dan melanjutkan pengisian formulir. Berhubung pengisiannya panjang dan entah kenapa waktu itu saya sempat time out formulirnya, jadi bersyukur ada fitur melanjutkan pengisian formulir supaya nggak harus ngulang dari awal.


Begitu memulai mengisi formulir, akan diberikan nomor registrasi yang sebaiknya disimpan karena akan dibutuhkan jika mau melanjutkan pengisian formulir dan mau melakukan pemilihan jadwal interview.


Waktu saya ngisi formulir, setiap halaman saya screenshot biar bisa di-share di sini. Namun sayangnya saya cari-cari tapi tidak bisa menemukannya. Barusan mau coba isi formulir ulang tapi males banget karena panjang. Ini saya kasih hint aja apa yang ditanya karena bener-bener lengkap dari data personal, keluarga, tujuan ke Amerika Serikat, dan sebagainya. Pertanyaannya emang terlihat banyak, tapi sama aja dengan visa Australia atau Schengen namun lebih detail.


Monday, September 23, 2019

A Perfectly Balanced Trip: First Class and Back to South America

Hari Rabu kemarin saya baru saja tiba di Indonesia setelah melakukan perjalanan selama 13 hari. Perjalanan tersebut bisa dikatakan perjalanan yang paling mendekati sempurna versi saya. Apa kriteria perjalanan sempurna? Sebagai orang yang suka liburan, sebuah perjalanan harus mengunjungi tempat baru dan sebagai orang yang suka transportasi terutama pesawat, sebuah perjalanan harus memenuhi setidaknya salah satu dari: naik maskapai baru, naik jenis pesawat baru, naik premium class (business atau first class). Nah, perjalanan kemarin memenuhi keduanya:
  • Saya mengunjungi tiga negara baru: Amerika Serikat, Ekuador, dan Kolombia
  • Saya naik business class, bahkan first class!
Quito, Ecuador

Di awal saya bilang kalo perjalanan ini “mendekati” sempurna. Sedikit kekurangannya adalah perjalanan yang terlalu singkat (yes I know, udah 13 hari padahal, tapi tetep aja kurang). Karena terlalu singkat ini destinasi yang saya kunjungi di masing-masing negara belum maksimal, terutama Kolombia. Saya pengen banget ke Cartagena, tapi nggak keburu jadi hanya mengunjungi Bogota. Ecuador juga ternyata banyak banget tempat yang oke. Well, there will always be next time. Aamiin!

Cathay Pacific First Class

Hadiah Tahun Baru dari Cathay Pacific
Pada pagi hari tanggal 1 Januari 2019, saya bangun tidur sekitar jam 6 waktu Malaysia. Kala itu saya sedang menumpang menginap di apartment teman yang sedang bekerja di sana. Seperti biasa setelah bangun tidur handphone-lah yang saya cari. Ketika membuka website yang rutin saya buka setiap harinya, jantung langsung deg-degan karena ada info tiket pesawat Cathay Pacific first class dari Vietnam ke Vancouver pulang-pergi seharga USD 1,000!!! Beberapa keinginan saya tercapai dari topik tersebut: mengunjungi Vancouver (untuk ke Alberta) dan naik first class Cathay Pacific.