Saturday, October 3, 2020

Review: British Airways 777-200ER Economy Class London to Rio de Janeiro

Pesawat dari Brussels mendarat di Terminal 5, sama dengan pesawat selanjutnya menuju Rio de Janeiro. Walaupun demikian, saya tetap harus melakukan proses transfer yang menurut saya cukup rumit. Bandara Heathrow merupakan salah satu bandara tersibuk di dunia sehingga kala itu bagian transfer ramai sekali. Tahap pertama adalah melalui pengecekan boarding pass, kemudian tahap berikutnya adalah pengecekan barang. Pada tahap pengecekan barang ini liquid harus dipisahkan dan dimasukkan ke kantong Ziploc yang sudah disediakan. Jika ketika melewati x-ray mesin berbunyi, sepenglihatan saya proses pengecekan lanjutannya ribet sekali. Oleh karena itu pastikan semua kantong kosong, tidak ada logam di badan, serta tidak ada liquid yang tertinggal di tas.



Walaupun sama-sama Terminal 5, tidak semua gate berada di gedung utama. Terdapat satellite builing B dan C yang biasanya digunakan untuk penerbangan jarak jauh. Dari gedung utama ke satellite building bisa menggunakan kereta atau jalan kaki. Berhubung jauh, saya naik kereta ke Terminal 5C. Nuansa di Terminal 5C sangat jauh beda dengan gedung utama karena sepii.


Saya menghabiskan waktu transit yang hampir 5 jam dengan duduk-duduk di terminal sambil lihat pesawat.


Blogger Tricks

Wednesday, September 30, 2020

Review: British Airways A321 Economy Class Brussels to London

Berhubung pesawat dari Brussels ke London dijadwalkan terbang jam 07.20, saya set alarm jam 05.00. Namun tetap aja sebelum jam 5 udah kebangun. Namanya tidur di bandara ya jadi nggak ada nyamannya, apalagi waktu itu udara cukup dingin. Akhirnya kucek-kucek mata, duduk, dan main handphone dengan memanfaatkan wifi gratis yang diberikan oleh bandara.


Counter check-in dibuka sekitar 2 jam sebelum berangkat. Dengan tiket yang saya miliki, saya mendapatkan jatah bagasi 32 kg. Bagasi saya akan diteruskan sampai tujuan akhir yakni Rio de Janeiro dan karena transitnya 5 jam, diberikan tag “LONG TRANSFER” juga. 


Setelah check-in dan melewati imigrasi, saya kelaparan karena baru inget kemaren cuma makan dari pesawat, snack di Thalys, dan waffle. Akhirnya beli panini yang ada telurnya seharga 7.95 EUR. Lumayan mengenyangkan ternyata karena porsinya gede. Karena haus, beli air mineral juga yang harganya 3.3 EUR cuma dapet 500 mL :(



Selesai makan saya berjalan menuju gate dan menyaksikan matahari mulai terbit.


Di gate sudah ada pesawat British Airways A321 yang akan membawa saya menuju bandara Heathrow di London.


Monday, September 28, 2020

Lima Tahun

Hari ini menandakan tepat lima tahun saya bekerja di kantor ini. Pekerjaan pertama, di tempat yang biasanya lekat dengan tenure singkat, saya masih bertahan! Berhubung ini merupakan sebuah milestone, jadi perlu diabadikan di-blog. Dulu sebelum mulai kerja sempet nulis post tentang cerita mahasiswa tingkat akhir yang mencari pekerjaan, kemudian nulis post lagi di weekend pertama setelah mulai bekerja.

Niatnya mau nulis post ini kemarin supaya bisa lebih rapi dan manis, namun terlalu menikmati akhir pekan hingga akhirnya baru nulis tepat di hari H. Mana seharian lumayan chaos jadi baru sempet buka blog jam segini. Hadeeh udah mau tengah malem nih, mata udah sepet, otak mulai konslet, nggak bisa nulis panjang. Udah kepikiran mau nulis beberapa cerita first jobber di sebuah start-up namun apa daya keburu ngantuk. Akhir minggu ini deh semoga bisa diluangkan waktu untuk menulis kelanjutan ceritanya.

Posisi pertama kerja

Sekarang saya hanya ingin memberikan tepukan ke pundak sendiri setelah melalui lima tahun di tempat saya bekerja sekarang. Perjalanannya naik turun banget kayak Ninja Hatori, mulai dari... sampai ke... ah nanti deh ceritanya ketika otak masih seger biar nggak ngelindur nulisnya :)) Nggak jelas dah nulis apa coba.

Supaya lebih ada faedahnya, saya ingin mengucapkan terima kasih ke orang yang telah memberikan saya kesempatan bekerja di tempat sekarang. Orang-orang yang selalu memberikan kesempatan dan ilmu untuk berkembang baik secara personal maupun profesional. Terima kasih juga buat Ayah dan Mama juga yang sudah mempercayakan keputusan yang saya ambil degan mengizinkan anaknya bekerja dengan menggunakan kaos dan jeans (sekarang udah pake kemeja terus sih #mature), bukan kemeja necis dan celana bahan.

Posisi terakhir kerja setelah melanglang buana berbagai lantai, sebelum akhirnya kantor pindah gedung tahun depan!

Kebiasaan deh sok-sok artis menang awards kebanyakan terima kasih. Segini dulu ya. Semoga bisa dilanjutkan ceritanya. Selamat lanjut bekerja tidur!

Cie strong team player (padahal mah template)

Saturday, September 26, 2020

Hari 2: Kunjungan Singkat di Brussels, Belgia

Saya tiba di Brussels Midi Station jam 20.00 dan jadwal penerbangan menuju London adalah pukul 07.20 keesokan harinya. Karena cuma sebentar di Brussels dan nggak banyak yang ingin dilihat, saya berencana untuk tidur di bandara aja. Namun ketika 2 kali pup di Doha dan Amsterdam saya khawatir badan saya perlu istirahat. Terlebih belum mandi juga dari pertama berangkat. Akhirnya ketika di lounge di Schiphol saya memesan hostel untuk menginap 1 malam di Brussels. Saya sudah cek bahwa kereta pertama dari Brussels Noord station menuju airport adalah jam 04.50 dan tiba 11 menit kemudian. Cukup lah buat check-in dan boarding pesawat yang berangkat jam 07.20 pagi.


Dari Brussels Midi saya naik kereta seharga 2.1 EUR menuju Sleep Well Hostel. Saya lupa apa yang diinfokan resepsionis ketika check-in, entah kalau besok tidak ada public transport atau semacamnya, yang jelas ternyata saya nggak bisa naik kereta untuk kejar pesawat pagi. Pilihannya hanya naik taksi seharga 25 EUR dari hostel ke bandara. Hadeeh ini aja nginep uangnya udah extra karena nggak ada di anggaran.


Tuesday, September 22, 2020

Batal ke Keukenhof dan Menuju Brussels dengan Thalys First Class

Ketika merencanakan liburan ini, kunjungan ke Keukenhof merupakan salah satu agenda utama karena saya tiba di awal Mei yakni musimnya tulip bermekaran. Namun ketika sudah memutuskan untuk melanjutkan ke Brazil dan Peru, saya menemukan bahwa tiket pesawat lebih murah jika terbang dari Brussels, bukan Amsterdam. Supaya bisa mengunjungi negara baru sekalian, akhirnya saya membatalkan rencana ke Keukenhof untuk melihat tulip dan membeli tiket kereta Thalys menuju Brussels.


Walaupun sudah landing di Amsterdam, pesawat saya tidak kunjung tiba di gate. Setelah beberapa tahun kemudian ketika baca blog Zilko saya tau kalau sepertinya saya mendarat di landasan Polderbaan yang memang jauh sekali dari terminal. Awalnya saya masih berminat untuk mencoba memaksakan ke Keukenhof, namun karena pesawat butuh waktu lama untuk tiba di gate akhirnya rencana tersebut benar-benar batal.

Ketika mendekati imigrasi, perasaan saya agak deg-degan karena sebelumnya saya ditanya cukup detail: berapa hari di Belanda, nginep di mana, dan diminta bukti reservasi hotel. Khawatir ditanya-tanya, kali ini saya pilih petugas yang lebih muda dengan asumsi tidak banyak nanya. Ternyata saya masih ditanya akan berapa lama di Amsterdam. Nggak mau menjelaskan lebih lanjut kalau saya akan pergi ke Brussels dalam beberapa jam, saya bilang 1 malam di Amsterdam. Kemudian dia menanyakan lagi akan ke mana setelah itu dan saya jawab bahwa saya akan terbang ke Rio de Janeiro. Reaksi dia “wow, you’re going to Rio. Enjoy partying there!” dan kemudian paspor saya dikembalikan sudah dengan cap masuk Belanda. Hore!

Berhubung kereta menuju Brussels baru akan berangkat jam 18.30 sore sementara waktu itu masih jam 15.00, saya sempet bingung mau ke mana. Sebenernya untuk ke kota cuma butuh 25-30 menit dengan kereta api, namun karena saya bawa koper yang besar dan harus bayar lagi, saya memutuskan untuk di bandara aja. Ternyata keputusan tersebut sangat tepat karena nggak lama setelahnya perut saya kembali sakit dan saya kembali mengosongkan perut dalam 30 menit mendatang.