Friday, May 31, 2019

Terbang dengan Oman Air 787 Business Class dari Muscat ke Jakarta

Sebagai orang yang rutin baca One Mile at a Time, saya jadi kebanyakan bermimpi pengen naik business dan first class berbagai maskapai. Seneng karena bisa merasakan jadi orang penting dalam beberapa jam, sedih karena harga business dan first class itu mahal banget jadi sebenernya suka sayang sama uang (atau miles) yang dikeluarkan.

Setelah Ben menuliskan review business class-nya Oman Air dan kemudian mengeluarkan daftar jenis kursi business class terbaik, saya penasaran dengan Apex Suite yang reviewnya bagus sekali dan dinobatkan sebagai kursi business class terbaik kedua, di bawah Qsuite (yang terima kasih karena “racun” dari dia juga saya pernah mencobanya).


Oleh karena itu begitu Oman Air kasih harga yang murah ditambah promo dari Traveloka yang menyebabkan tiket PP dari Jakarta ke Paris bisa didapatkan dengan harga Rp 4,5 juta dan terlebih lagi Oman Air punya program bid upgrade dimana penumpang bisa membayar untuk upgrade dari ekonomi ke bisnis, saya langsung issued tiket. Sempet bingung mau bid upgrade apa nggak karena harganya sama kayak tiket PP padahal business class-nya cuma 1 aja dari 4 flight, tapi akhirnya saya memutuskan untuk bid dan dapet! Daripada saya pusing karena kepikiran bayar upgrade 1 flight seharga tiket PP ke Eropa, saya memutuskan untuk melihatnya dari sudut lain, yakni bayar tiket PP ke Eropa Rp 9 juta, bisa cobain salah satu business class terbaik dunia!

Disclaimer: saya akan banyak melakukan perbandingan dengan Qatar Airways karena jujur ekspektasi saya tinggi berhubung bayar (walaupun diskonan) dan saya beranggapan Oman Air ini sedang membenahi diri supaya bisa sejajar level prestige-nya dengan Middle East 3 (Emirates, Etihad, Qatar Airways). Selain itu saya beberapa kali naik Qatar Airways juga jadi lebih tau apa yang bisa didapatkan oleh penumpang business class.

CHECK-IN
Tiba di Muscat International Airport, saya menuju area khusus penumpang business dan first class yang terletak di pojokan. Nggak semegah area check-in-nya Qatar Airways di Doha, tapi tetep berasa eksklusifnya. Sebagai penumpang business class saya mendapatkan jatah bagasi seberat 50kg. Karena saya member Sindbad Silver, dapet tambahan 10kg lagi jadi total 60kg.



Banyak terdapat kursi yang bisa dipakai sambil nunggu. Namun karena malam itu kosong, jadi proses check-in berjalan dengan cepat. Selesai check-in, ada jalur imigrasi khusus. Security check sebenernya masih sama lokasinya dengan penumpang lain, tapi ada 2 line yang dikhususkan untuk penumpang premium.


LOUNGE
Naik satu lantai untuk menuju business class lounge-nya Oman Air. Ini akan saya tuliskan review-nya terpisah, tapi secara singkat: makanan enak (banget!), kursi banyak, design cantik, tapi berasa sempit (sepertinya karena ceiling yang rendah).

Oman Air WY849
Muscat (MCT) to Jakarta (CGK)
STD: 02.20 (GMT+4)
STA: 13.20+1 (GMT+1)
Boeing 787-9

BOARDING AND CABIN
Boarding sangat berantakan prosesnya. Semua penumpang dipersilakan masuk ke pesawat secara bersamaan yang menyebabkan langsung pada rusuh. Aneh banget karena 3 penerbangan saya sebelumnya dengan Oman Air mempersilakan penumpang business class serta elite member Sindbad (frequent flyer programnya) untuk masuk pesawat terlebih dahulu.

Terdapat 30 kursi business class yang terbagi menjadi 2 bagian, yakni bagian depan (antara pintu pertama dan kedua) ada 24 kursi dalam 4 baris dan 1 baris terletak bagian belakang setelah pintu kedua. Kursi business class memiliki layout 2-2-2.

Denah kursi (source)





SEAT
Saya memilih duduk di kursi 15A yang terletak di bagian belakang. Jenis kursi yang digunakan Oman Air pada pesawat 787-9 adalah Apex Suite. Walaupun layout-nya 2-2-2, tapi semua kursi memiliki akses langsung ke aisle dikarenakan kursi yang dekat jendela (A dan K) memiliki jalur masuk khusus.

Seat 15A with three windows!

Seat

Seat

Pertama kali yang saya rasakan ketika duduk adalah… kok kursinya rada keras. Positfinya, legroom lega banget! Kursi juga masih termasuk lebar bagi saya yang kurus ini. Ottoman juga lebar dan tidak berbentuk cubbyhole yang buat banyak orang suka menjadi masalah di kursi jenis reverse herringbone seperti yang digunakan Qatar Airways di 787.

Ottoman

Di kursi ada partisi yang bisa diangkat jadi nggak perlu liat-liatan dengan orang sebelah. Namun untuk take-off dan landing partisi ini harus diturunkan.

Seat partition

Personal storage menurut saya nggak terlalu strategis penempatannya, beda dengan Qatar Airways yang banyak banget dan sangat mudah dijangkau. Ransel atau travel bag bisa diletakkan di bawah ottoman. Ada tempat untuk meletakkan botol minum dan noise cancelling headphones.

Personal storage

Terus ada tempat untuk majalah dan segala jenis bacaan.

Literature storage

Saya sempet bingung dimana sebaiknya meletakkan dompet, handphone, dan pernak-pernik lain seperti charger karena tidak ada tempat barang tertutup. Ahirnya saya letakkan di samping kanan kursi, termasuk laptop ketika selesai digunakan. Rada ngeri bakal ngegelosor sih barang-barangnya, tapi untungnya aman.

Di sebelah kanan bawah kursi terdapat power plug tersedia dalam bentuk USB port (ada 2) dan colokan beneran (ada 1).

Power plug

Sementara itu di sebelah kiri ada seat controller untuk mengatur posisi kursi (baik manual maupun preset seperti take-off dan landing, makan, lounging, dan tidur) ditambah ada fitur massage juga.

Seat controller

Kursi juga memiliki fitur do not disturb yang jika diaktifkan akan terlihat lewat nomor kursi yang berubah menjadi warna merah.

Do not disturb sign

Fully flat seat

Tray table terletak di sebelah kanan dan perlu ditarik untuk dikeluarkan jika mau makan atau main laptop.

AMENITIES
Begitu masuk, tersedia bantal, selimut, serta mattress pad. Semuanya enak dan bikin tidur makin nyaman! Salut untuk Oman Air yang kasih mattress pad di business class untuk penerbangan 7-8 jam karena Qatar Airways baru kasih mattress pad untuk penerbangan di atas 10 jam.

Bantal

Selimut

Mattress pad

Ketika boarding pramugara memberikan amenity kit dengan merk Amouage. Amenity kit yang dibagikan sama saja bagi pria dan wanita. Padahal saya googling ada versi untuk wanita loh.

Amouage amenity kit

Isi amenity kit-nya lengkap banget! Ada lotion, lip balm, dan moisturizer dari Amouage. Seperti biasa ada eye shade, kaos kaki, dan earplug. Tapi selain itu ada tambahan beberapa item yang biasa ditemui di lavatory, yakni sisir, sikat gigi, shaving kit, dan mouthwash. Saya sempet mikir ngapain dikasih semua di sini kan bisa ambil di lavatory. Eh ternyata di lavatory kagak ada apa-apa!

Isi amenity kits yang lengkap

Dalam penerbangan ini juga diberikan piyama dan slippers dengan brand Oman Air. Lagi, kudos untuk Oman Air yang memberikan slippers untuk penerbangan di bawah 10 jam. Saya pakai celana dan slippers-nya aja dan udah berasa nyaman untuk tidur. Minus-nya adalah piyama dan slippers ini nggak dibagiin ke semua penumpang bersamaan dengan pembagian amenity kit pas boarding. Padahal kalo di Qatar Airways biasanya dibagiinnya barengan. Udah gitu ada sedikit drama juga pas minta piyamanya. Nanti saya ceritain di bagian service.

Pyjama

Pjyama and slippers

IN-FLIGHT ENTERTAINMENT
Terdapat TV yang di dalamnya ada ARIA, nama sistem in-flight entertainment Oman Air.

TV

Pilihan film, tv series, dan lagunya juga banyak dan up-to-date. IFE controller terdapat di sebelah kanan kursi dengan fitur touchscreen. Beda dengan punya Qatar, punya Oman ini touchscreen-nya responsif.

IFE controller

Tersedia juga noise cancelling headphone. Nggak ada merknya dan saya nggak ngerti juga gimana menilai bagus atau tidaknya noise cancelling. Pokoknya kalo dipake, suara mesin gak kedengeran, suara pramugari juga gak kedengeran. Segitu udah cukup sih buat saya.

Noise cancelling headphone

Ada wifi juga namun tidak gratis.

FOOD AND BEVERAGES
Menu makanan dan minuman dibagikan ketika boarding dan ada di dalam map dari kulit! Berasa naik first class. Map-nya sendiri bagus banget.

Business class menu

Business class menu

Ketika boarding, penumpang tidak ditawari minum ketika masih ada penumpang yang masuk. Nggak tau ini karena kursi saya dilewatin penumpang ekonomi atau di bagian depan juga nggak dikasih. Mereka baru menawarkan welcome drink nggak lama sebelum pushback. Pilihannya berupa air mineral, jus, atau smoothie. Saya pilih smoothie yang enak! Nggak tau juga kenapa mereka gak nawarin alkohol dan apakah bisa tetep minta atau nggak. Selain itu, mereka juga memberikan hot towel.

Smoothie

Hot towel

Welcome drink baru dateng, mereka udah dateng lagi nawarin kurma dan Arabic coffee. Saya apresiasi banget layanan ini karena di Qatar Airways baru ditawarin ini ketika duduk di first class. Tapi waktu pembagiannya itu lohhh udah mepet banget take-off baru ditawarin ini-itu. Kenapa nggak pas boarding aja kan lumayan daripada bengong mendingan minum atau makan.

Arabic coffee dan kurma

Dalam urusan makanan, Oman Air menggunakan konsep yang sama dengan Qatar Airways yakni dine on demand dimana penumpang bebas makan apa aja dan kapan aja. Cuma anehnya, mereka sama sekali nggak nanyain preference makanan dan kapan mau makan.

Refreshment and drink menu

A la carte menu

Begitu mengudara saya laper jadi memutuskan untuk makan snack. Ada drama juga di sini, nanti saya ceritain sekalian di bawah. Di menu bagian snack atau refreshment ini terdiri dari 4 menu, yakni kacang, dessert, chicken burger, dan smoked beef sandwich. Saya mikirnya ini kayak Snack Platter-nya Qsuite yang disuruh milih. Saya udah milih satu sebenernya, tapi lah yang dateng malah empat-empatnya!

Refreshment tray

Mereka pasang taplak meja lalu makanan diletakkan bersamaan dengan tray-nya. Yah kecewa masa dikasih tray, bukannya dijejerin satu-satu di meja. Bener-bener #firstworldproblem karena #SpoiledByQatarAirways. Maafkan saya.

Smoked beef sandwich

Chicken burger

Kacang dan dessert

Tapi makanannya enak banget! Dari 4, saya makan 3 dan semuanya enak. Menu kacangnya nggak saya makan karena nggak suka. Saya minta hot chocolate juga dan enak!

Hot chocolate

Saya tidur setelah kekenyangan dan bangun 3 jam kemudian. Apa yang dilakukan? Makan lagi! Kali ini makannnya adalah yang multi-course. Pramugari pasang taplak meja dan memberikan hot towel supaya seger. Sama kayak sebelumnya, napkin berisi cutlery diberikan ke penumpang dan disuruh mengatur semuanya sendiri. Yep, masih #firstworldproblem. Tapi bagusnya sekarang udah nggak pake tray lagi jadi semua alat ditaro langsung di meja.

Posisi tidur

Course 1: Spiced sesame crusted prawns with tomato relish, carrot, and celery
Ini merupakan amuse bouche. Berhubung saya nggak suka udang jadi saya gigit-gigit dikit. Lembek banget udangnya.

Amuse bouche

Course 2: Herb sweet potato cream soup
Saya nggak suka makan sayuran, tapi tiap makan soup kayak gini selalu doyan. Enak dan seger! Pas liat menu saya langsung ngeh di menu prawn ada “tobiko caviar”. Berhubung penasaran banget pengen cobain caviar, saya nanya pramugarinya ini caviar apa. Karena kata dia bukan caviar beneran, jadi saya batal order itu.

Soup course

Course 3: Roasted chicken breast stuffed with apricot and goat cheese
Nasinya pake saus machboos gitu, tapi nggak seenak yang di lounge. Ngenyangin tapi berhubung porsinya gede dan ayamnya enak.

Main course

Course 4: Cheese plate
Saya nggak suka keju tapi selalu penasaran dengan cheese plate ini. Jadi pesen aja dan banyak jenis kejunya! Saya ketikin aja dari menunya karena nggak tau keju mana namanya apa. Ada port salute, gouda cumin, blue cheese, dan camembert cheese. Selain itu ada juga side dish berupa wortel, seledri, apricot, prune, anggur, fig, crackers, dan tomato chutney.

Cheese plate

Sumpah nggak ngerti cara makannya. Akhirnya saya potong kejunya dikit terus makan pake crakers. Anggur saya gadoin, sisanya gak dimakan. Gimana sih cara cheese plate yang baik dan benar?

Course 5: Warm raspberry frangipane with passion fruit and mint coulis
Menutup makan siang dengan dessert yang nggak kalah enak dengan makanan lainnya.

Dessert

Minumnya saya coba champagne Laurent-Perrier Brut karena suka baca di-review orang, jadi mungkin harganya mahal. Gimana rasanya? Gak enak seperti biasa. Cuma minum nggak sampe seteguk terus dijadiin pajangan aja berhubung gelasnya bagus. Saya pesen earl grey tea sebagai gantinya.

Champagne and amuse bouche

Laurent-Perrier Brut champagne

Earl grey tea

LAVATORY
Terdapat 3 kamar mandi untuk penumpang business class. Dua terletak di bagian depan sementara 1 di bagian tengah (tips: pintu terletak di dekat aisle G-J. Awalnya saya bingung jadi pakenya yang di depan). Begitu masuk, nggak ada yang spesial dengan lavatory-nya. Tapi setelah diliat.. mereka punya bidet a la Jepang. Nice! Tetep aja sih saya males pup di pesawat.

Lavatory

Japanese bidet!

Toiletries tersedia dari Amouage, sama dengan amenity kits. Namun nggak ada amenities lain kayak sikat gigi atau shaving kit. Mungkin karena di amenity kit yang dibagiin udah lengkap semuanya.

Toiletries Amouage

SERVICE
Kalo orang punya prinsip save the best for last, saya malah simpen yang paling parah di akhir. Servis selama di pesawat jauh di bawah ekspektasi saya. Ada yang petugas ramah, tapi keliatan nggak polished kayak baru selesai training sehingga yang saya rasakan adalah kaku banget asal kerjaannya selesai. Sementara itu yang keliatan lebih senior saya nilai sebagai orang yang males dan kebanyakan ngobrol di galley bagian depan. Mungkin kalo sebelumnya saya nggak pernah naik business class akan ngerasa mereka baik-baik aja karena nggak tau harus berekspektasi seperti apa. Namun karena saya udah pernah dan naiknya Qatar Airways yang servisnya oke banget, jadi kebanting banget. Saya ceritain satu-satu issue dengan servis secara berurutan. Saking banyaknya sampai saya bikin notes di laptop sepanjang penerbangan kalo ngerasain yang aneh-aneh.

Masuk pesawat cuma disapa “hi”, dari di pintu sampai duduk. Padahal biasanya ke elite member (saya Sindbad Silver) apalagi business class biasanya dipanggil last name. Pramugari yang bertugas di aisle saya (yang tadi saya bilang ramah tapi unpolished) nggak pernah sapa saya dengan “Mr. Kamajaya”. Again, no big deal sebenernya, tapi jadi ngerti kalo pramugara/i Qatar Airways itu berusaha untuk engaged dengan penumpangnya. Kalo pun ternyata penumpangnya nggak suka diajak ngobrol, seenggaknya baru keliatan setelah interaksi awal kalo jawabannya dingin.

Another minor thing is, kalo di Qatar Airways tuh lead steward/ stewardess/ purser/ in-flight manager akan dateng satu-satu ke penumpang untuk ucapin selamat datang dan perkenalin dirinya. Di sini nggak ada.

Sebelum terbang saya baca beberapa review business class-nya Oman Air dan mereka sediain piyama untuk penerbangan malam. Karena nggak dikasih pas boarding dan saya udah mau ganti jeans, saya pencet call button karena pramugari nggak ada yang secara rutin ngecekin penumpang. Dalam 5 menit saya pencet 3x, nggak ada yang nyamperin! Akhirnya saya cari mereka dan pas ke galley bagian depan.. LAGI PADA NGOBROL DONG SERU BANGETTT. Pramugari yang terlihat senior dalam keadaan masih duduk ngeliatin dan nanyain saya mau ngapain. Saya bilang minta piyama dan selanjutnya dia bilang nanti dianterin ke kursi. Sekitar 2 menit kemudian pramugari yang bertugas di aisle saya dateng untuk kasih piyamanya. Sepenglihatan saya piyama nggak dikasih secara otomatis, jadi harus masing-masing minta. Karena pas mau mendarat saya ke toilet nggak ada yang antri ganti baju, padahal biasanya menjelang landing kamar mandi pasti ngantri karena pada mau ganti piyama.

Dikasih mattress pad untuk penerbangan di bawah 10 jam udah bersyukur sih. Tapi berhubung satu-satunya pengalaman saya dikasih mattress pad di business class, pramugarinya semangat banget buat ngasih turndown service, alias mengubah dan merapikan kursi menjadi kasur. Ada kali saya ditanya 2-3x sebelum saya akhirnya mengiyakan. Nah ini cuma digeletakin doang, jadi mesti bikin sendiri. Saya ngerti dikit-dikit bikin kasur yang proper, yakni dengan menyangkutkan mattress pad-nya ke bagian atas. Pas persiapan landing saya ngeliatin sekitar masangnya pada nggak bener..

Bed mode hasil karya sendiri. Sok dilipet segala ujung selimutnya :))

Isu besar lainnya adalah ketika saya lapar dan berniat minta refreshment. Saya pencet lagi tuh call button. Kali ini saya catet jam pertama kali saya pencet untuk tau berapa lama waktu responnya. Berhubung nggak kelaperan banget, jadi saya nungguin aja sambil ngedraft blog tulisan ini. Akhirnya supervisornya dateng setelah nunggu 16 menit. Yes, 16 menit!! Bahkan di ekonomi kalo saya pencet call button bisa langsung nyamperin petugasnya. Kesel banget! Makanan akhirnya dateng 4 menit kemudian. Untung aja makanannya enak.

Berikutnya pas ambil tray dan beresin meja ketika saya selesai makan refreshment, pramugarinya mau ngeloyor aja. Inisiatif keeekk tanyain mau kapan makan beratnya. Akhirnya saya panggil lagi dan minta dibangunin untuk makan 2 jam sebelum landing. Poin plusnya adalah dia beneran bangunin 2 jam sebelum landing, sesuai permintaan saya. Dan untungnya lagi makanannya enak.

Pramugari menurut saya bisa dilatih untuk lebih akrab dengan penumpang. Mungkin karena flight berangkat jam 2 pagi jadi pada capek juga dan minta penumpangnya istirahat. Tapi seenggaknya coba dulu kek. Kalo penumpangnya males ngobrol juga gak bakal diladenin terus-terusan. Jauh banget deh bedanya dengan Qatar Airways dimana selalu ngajak ngobrol. Basa-basi aja kayak darimana, mau ngapain, dan sebagainya. Seenggaknya dari situ keliatan ada usaha ramah ke penumpang. Pramugari/a Qatar Airways kalo liat saya sering foto-foto hampir selalu ngajak ngobrol tentang kamera dan fotografi. Ada yang bener-bener rapi ngeletakin barang di meja pas mau makan supaya hasil fotonya bagus dia bilang, dan banyak yang nawarin untuk foto saya di business class. Langit dan bumi banget beda kualitas servis antara Qatar Airways dan Oman Air.

Demikianlah pengalaman saya naik business class Oman Air dari Muscat ke Jakarta. Hard product dan beberapa aspek soft product kayak makanan dan amenity kit menurut saya udah oke banget dan kompetitif dibanding maskapai lain. Namun untuk urusan servis dari satu kali pengalaman saya kemarin masih parah banget. Semoga nggak semua servis di Oman Air seperti itu. Saya baca blog-nya Ben juga dari 4 flight, dia apes dapet 1 flight yang pramugarinya males

Approaching Jakarta

Apakah saya mau naik business class Oman Air lagi? Definitely! Though only when the price is super right. Ayo dong keluarin lagi harga Rp 13 juta PP dari Jakarta ke Eropa :p

4 comments:

  1. Wah, cabin crew-nya payah juga ya Ky. Padahal cabin crew ini aspek yang penting, karena faktor "human interaction" selama penerbangan yang didapat penumpang ya melalui mereka kan. Kalau kurang oke, impresinya kan jadi buruk, bikin orang malas untuk terbang lagi dengan mereka (biarpun sisi produk lainnya oke). Dulu aku mendapatkan satu set cabin crew yang benar-benar indifferent dan gak peduli di maskapai LCC aja sudah bikin aku ogah untuk terbang lagi dengan mereka (padahal hard dan soft-product-nya bagus banget!), apalagi di business class!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yesss. Aku sebenernya introvert sih jadi sebisa mungkin interaksi diminimalkan, tapi bukan berarti jadi nggak dilayanin dengan baik juga. Ini kemaren parah banget, jauh lebih parah dari banyak flight di ekonomi. Sayang banget padahal sisanya oke. Sebagai orang berlatar belakang science, mungkin ini outlier berhubung baru sekali nyobain. Semoga berikutnya bisa nyoba lagi untuk membuktikan :p

      Bisikin dong airlinesnya apa LCC yang hard dan soft product-nya ok :D

      Delete
    2. Yup, pelayanan baik nggak cuma sekedar ramah, ngomong dalam berinteraksi ya. Karena bentuk komunikasi kan nggak sebatas cuma ngomongnya doang, hahaha :D . Bisa jadi ini outlier Ky, tapi nggak enaknya kok outlier yang negatif. Harusnya pihak maskapai memastikan kalau outlier jangan sampai yang negatif kan ya, hahaha :D .

      Waktu itu sih Interjet Ky, tapi waktu itu cabin crew-nya payah banget deh, bikin aku malas balik lagi. Tapi ada satu lagi LCC yang impresif sih, JetBlue! Ini aku juga suka banget! :D

      Delete
  2. Ya jelas bedalah kualitasnya. You should make an review between 5* vs 5* not comparing 5* vs 4* airlines.

    ReplyDelete