Monday, March 8, 2021

Lagi Banyak Pikiran

Kemarin saya mengalami suatu kejadian yang menyadarkan saya bahwa banyak sekali hal yang sedang dan sudah terjadi namun saya belum sempat–atau malah cenderung acuh–terhadap hal-hal tersebut. Sejauh ini saya merasa hal-hal tersebut tidak saling berhubungan, namun sejak kemarin saya tersadar bahwa saya salah. Oleh karena itu dalam waktu yang cukup singkat tersebut saya mencoba untuk mengidentifikasi apa saja hal-hal yang sedang saya alami supaya hidup saya bisa lebih terarah.  

Serenity di Blagaj, Bosnia untuk menemani post yang panjang dan tanpa foto (padahal karena males aja cari foto lain :p)

Tentang Passion dan Hobi
Saya merasa bahwa jalan-jalan adalah passion saya. Semumet-mumet-nya kerjaan, kalo ada rencana mau cuti untuk liburan pasti mood saya langsung meningkat ketika menyusun rencana perjalanan. Walaupun makin ke sini rencana liburan saya makin singkat perencanaannya dan tidak se-detail dulu, saya masih bisa menghabiskan berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu sebelum akhirnya menentukan mau ke mana dan bagaimana transportasinya. Kadang kebalik juga sih, beli tiket pesawat dulu lalu dipikirin mau ke mana aja.

Sekarang ini karena kondisinya masih belum kondusif akibat pandemi COVID-19, otomatis saya tidak bisa jalan-jalan seperti biasanya. Sejak pertengahan tahun lalu saya mencoba untuk melakukan staycation untuk menggantikan jalan-jalan, namun sayangnya masih belum bisa digantikan. Mungkin karena buat saya menyusun rencana pembelian tiket pesawat itu berkontribusi ke 50% dari kebahagiaan ketika merencanakan jalan-jalan.
 
Ketika saya merasa kondisi sudah mulai membaik, akhirnya saya memutuskan untuk jalan-jalan lagi beberapa minggu lalu. Uang sudah dialokasikan dan masih masuk budget. Tiket pesawat, hotel, dan rencana perjalanan juga sudah dibuat. I was very excited! Unfortunately, something happened yesterday and I decided to call everything off. Saya jadi sadar bahwa walaupun rencana saya ini sudah sebisa mungkin menerapkan social distancing, masih ada yang hal eksternal dan internal lain yang membuat perjalanan di masa pandemi ini menjadi kompleks dan mahal. Ada karantina, tes PCR, bahkan sampai keperluan untuk naik taksi ke mana-mana untuk bisa tetap menerapkan social distancing. Again, uang udah ada, namun ketika saya pikir lebih lanjut kok sepertinya tidak worth it untuk dibayarkan dan dijalankan.
 
Hal yang menurut saya paling kompleks adalah tes PCR sih. Tes yang harus dilakukan mepet dengan keberangkatan menyebabkan selalu adanya kemungkinan batal berangkat dan lebih parah lagi harus isolasi ketika ternyata hasilnya positif. Bikin stress diri sendiri dan keluarga juga.
 
Oleh karena itu saya sudah berprinsip bahwa sebelum keadaan menjadi lebih kondusif, misal vaksinasi bisa menggantikan PCR dan peraturan mengenai karantina di tempat tujuan dan Indonesia bisa dibuat lebih budget- dan time-friendly, saya belum mau melakukan perjalanan dulu. Namun pertanyaan berikutnya adalah, karena biasanya saya mendapatkan rasa senang dan kebahagiaan dari jalan-jalan dan merencanakannya, dari mana saya harus mencarinya selama keadaan masih belum kondusif?
 
Kalo observasi di rumah, sepertinya Mama sudah menemukannya dari berkebun. Adek udah menemukannya di buku. Ayah sepertinya punya hobi bebersih. Saya gimanaa? Walaupun suka bermalas-malasan di kamar, namun kebahagiannya hanya sesaat. Apalagi ketika lagi work from home gini yang kadang garis antara pekerjaan dan personal menjadi blur.
 
Menemukan hal baru yang bisa membahagiakan saya selama pandemi ini menjadi tugas yang harus cepat diselesaikan karena khawatir jadi gampang stress kalo nggak ketemu.
 
Tentang Finansial
Pada akhir tahun 2020 saya tersadar bahwa yang namanya return dari deposito atau semacamnya itu jauh lebih besar dari tabungan. Sejak saat itu juga saya mulai tertarik dengan yang namanya investasi.

Yes, setelah 5 tahun memiliki gaji sendiri, baru sekarang ini saya mulai mencari tahu lebih dalam tentang investasi. Walaupun belum punya ilmunya, bukan berarti saya belum punya instrumen investasi, loh. Karena pada dasarnya properti merupakan salah satu instrumen investasi, jadi technically saya sudah mulai investasi sejak 2017 ketika memutuskan untuk membeli apartemen. Namun karena masih bodoh, milihnya pun ngikut orang tua, sebelum beli pun saya nggak cek harga pasaran dulu sehingga sampai sekarang saya masih merasa harganya kemahalan. Untung aja dapet cicilan bunga 0% untuk melunasi apartemennya dari Bank ADM alias Ayah dan Mama. Kalo iseng cek pun ini property kayaknya menyusut deh harganya sekarang, mana lagi pandemi kan. Jadi kasarnya ya rugi.
 
Namun saya mencoba melihat sisi positifnya: waktu itu akhirnya saya memutuskan untuk beli properti adalah supaya hasil jerih payah saya ada bentuknya, plus belum ngerti instrumen investasi lain juga kan. Alhamdulillah sih bentuknya udah ada dan emang suka senyum-senyum pas liat gedungnya, walaupun unit saya belum jadi padahal katanya bakal jadi tahun 2018. Update terakhir sih tahun ini bakal serah terima cuma ya nggak banyak berharap sih saya, toh belum ada rencana dipake juga.
 
Ketika mulai tau investasi dalam bentuk reksa dana dan saham hasil ngobrol dengan teman yang sudah terjun duluan, nonton YouTube, dan baca-baca artikel, saya memutuskan untuk mencoba dengan reksa dana pasar uang dan obligasi. Hasilnya positif di beberapa minggu pertama, namun karena saya geregetan dan iri (banyakan irinya sih) karena return adik saya yang main saham itu lebih besar padahal modalnya jauh lebih kecil dari saya, saya langsung mencoba reksa dana saham.
 
Karena masih tetap merasa kurang, jadi lah dengan sok tau dan berberkal ilmu yang minim saya mencoba beli saham individual. Entahlah kerasukan apa saya jadi ngide banget. Alhasil sampai sekarang itu saham secara overall nggak pernah mengalami yang namanya floating gain. Emang sih saham itu mainannya long term, tapi bikin sakit kepala kalo short term-nya merah terus. Jadi saya harus mulai mempelajari saham lebih lanjut nih untuk bisa mencapai tujuan-tujuan finansial saya.
 
Ngomogin tujuan finansial, saking tersadarnya saya akan bagaimana investasi bisa digunakan untuk mencapai tujuan finansial, saya sampai menghabiskan 2 hari di awal tahun ini untuk mengidentifikasi apa saja tujuan finansial saya dan menghitung besarnya investasi per bulan yang harus dilakukan. Beberapa pos sudah jelas tujuannya, namun ada 1 pos yang masih saya campur karena belum tau mana yang akan terjadi duluan: dana pernikahan, beli mobil, beli rumah, atau liburan ke Antarctica. Liburan ke Antarctica dihitung dengan future value itu jatuhnya mahal banget yaAllah bawannya pengen istighfar aja… Karena pos-pos ini juga pengeluaran saya jauh lebih teratur sehingga jadi pelit banget keluarin uang buat hal-hal yang tidak esensial dan tidak ada benefit tambahannya.
 
Walaupun sepertinya beberapa tujuan utama masih bisa tercapai, fakta bahwa sejauh ini return di semua instrumen investasi yang saya punya masih belum memuaskan bikin saya rada khawatir apakah sebenernya bisa tercapai atau nggak dengan kondisi sekarang, terutama ketika saya hanya memiliki 1 sumber pendapatan.
 
Tentang Karir
Biasanya saya membatasi diri untuk ngomongin karir itu hanya di tulisan year in review akhir tahun. Itu pun penuh dengan kode sampai saya suka bingung dulu pas nulis sebenernya apa yang terjadi atau dipikirin. Satu-satunya tulisan yang saya dedikasikan khusus untuk curhat tentang pekerjaan (tetap dengan kode) adalah ketika saya cerita tentang kebingungan cari makan di McDonald’s deket hotel atau jalan-jalan ke mall. Saking bingungnya, bahkan sekarang saya lupa McDonald’s dan mall itu sebenernya masing-masing kode untuk apa.
 
Untuk share sedikit konteks, sejak lulus kuliah di tahun 2015 saya bekerja di sebuah perusahaan start-up di bidang teknologi. Bisa dibilang saya merintis karir di perusahaan ini karena masuk di entry-level sebagai analyst dan sekarang saya berada di mid-level management (kayaknya?). Banyak banget pengalaman yang sudah saya dapatkan, baik yang positif maupun negatif, yang kadang saya masukin sebagai kode-kode di beberapa tulisan year-in-review tersebut.
 
Melihat kondisi sekitar, sepertinya nggak banyak orang yang merintis karir di start-up dan menghabiskan lebih dari 5 tahun. Biasanya udah punya pengalaman duluan lalu join start-up atau bertahan 1-3 tahun. Namun seperti yang saya bilang di atas, walaupun menurut saya masih lebih banyak hal positif yang saya dapatkan di perusahaan ini dibanding yang negatif, bukan berarti perjalanan saya mulus terus. Kalau mengingat pengalaman saya cari kerja, rasanya males banget untuk mengalami hal itu lagi. Namun karena satu dan lain hal kala itu, saya memutuskan untuk memberikan respon ke seseorang di jejaring perkariran. Hingga akhirnya pernah suatu kali saya mendapatkan penawaran di tempat lain dan hampir mengajukan resign. Namun ketika berpikir lebih lanjut dan berdiskusi dengan beberapa orang, saya memutuskan untuk tetap di perusahaan ini. Selain lingkungan dan rekan kerjanya, opportunity baru yang ditawarkan kala itu membuat saya bertahan.
 
Sayangnya opportunity itu tidak selalu ada. Beberapa waktu lalu saya diinfokan secara informal (atau formal ya? Bingung juga sih karena lagi ngobrol aja waktu itu) bahwa karena satu dan lain hal, dalam waktu dekat masih belum akan ada professional growth opportunity buat saya di scope pekerjaan saya sekarang. Even to the extent of encouraging me to explore other opportunities myself. Lugunya saya kala itu, malah nanya untuk memastikan explore ini maksudnya internal atau eksternal yang langsung diklarifikasi bahwa maksudnya adalah internal.

Sejujurnya saya masih bingung atas keadaan ini. Di satu sisi saya sangat apresiasi informasi ini karena perusahaan ini sudah terbuka dengan keadaan yang sebenarnya, namun di sisi lain saya juga jadi bingung apa yang harus dilakukan. Sebagai orang yang sebisa mungkin memperpendek durasi menjadi jobseeker, baik eksplor internal maupun eksternal ini sama aja nggak enaknya karena sama-sama punya ketidakpastian. Belum lagi setelah kehilangan beberapa teman yang sudah pindah pekerjaan, dalam beberapa bulan ke depan saya akan kehilangan teman terakhir di perusahaan ini yang saya nyaman bercerita dan berkeluh kesah.
 
Nah kan nambah lagi deh yang dipikirin.
  
Tentang Kehidupan
Ini lebih abstrak dari yang lain jadi saya rada bingung gimana mulainya.
 
Let’s start dari mindset. Beberapa waktu belakangan saya lagi mencoba menerapkan mindset untuk hanya memikirkan hal-hal yang berada dalam kontrol saya, tanpa harus memikirkan apa yang di luar kontrol saya. Sebagai orang yang sangat peduli dengan bagaimana orang memiliki pandangan terhadap saya, ini sebenernya susah banget buat diterapkan. Bahkan mungkin aja sebenernya orang nggak punya pandangan ke saya, tapi saya aja yang hobi overthinking. Sehingga saya harus mulai bodo amat terhadap pandangan orang. Saya jadi tertarik untuk baca buku The Subtle Art of Not Giving a Fuck karena sepertinya relevan untuk kondisi di atas.
 
Btw atas dasar penerapan mindset ini juga lah akhirnya saya bisa lumayan cepat mengambil keputusan kemarin. More on that later in a separate post.
 
Hal berikutnya adalah tentang ngobrol. Saya bukanlah orang yang terbuka ke orang lain, bahkan ke keluarga sendiri. Namun sejak saya hampir resign di tahun 2019 lalu, saya tersadar akan pentingnya memiliki teman ngobrol, baik untuk mempunyai pendengar, meminta saran, maupun berdiskusi. Saya merasakan setidaknya kelegaan atau bahkan beberapa kali tercerahkan setelah ngobrol dan bercerita dengan beberapa orang. 
 
Awalnya saya naif dan berpikir teman akan selalu ada untuk diajak ngobrol, namun ketika ngobrol dengan beberapa teman mengenai apa alasan dia berada dalam sebuah hubungan yang serius, baik pacaran maupun menikah, teman saya ini menyadarkan bahwa walaupun teman akan selalu mencoba berusaha menjadi teman yang baik, akan datang masanya di mana frekuensi dan kualitas ngobrol akan turun karena sudah punya kesibukan masing-masing. Mungkin waktu itu teman yang biasa saya ajak ngobrol masih belum berada di hubungan yang serius atau masih dalam satu lingkungan. Namun ketika mereka mulai berada di suatu hubungan yang serius dan/ atau sudah tidak di lingkungan yang sama, frekuensi dan kualitas obrolan pasti akan menurun dan saya tidak bisa berharap lebih dan memaksakan juga.
 
Belum lagi sejak work from home tontonan YouTube dan social media saya dipenuhi oleh pasangan suami-istri seperti Raditya – Anissa, Andhika – Ussy, dan Kinos – Gina. Wah, bukan lagi cuma pengen punya temen ngobrol seumur hidup, bahkan at times saya suka jadi pengen punya anak sendiri. Hal ini sejujurnya belum ada dipikiran saya atau setidaknya masih jauuh banget horizonnya.
 
Agak bertele-tele, tapi kelihatannya sudah kebaca ke mana arah saya menuliskan ini. Yes, sepertinya saya menyadari pentingnya memiliki satu teman ngobrol untuk seumur hidup dan eventually ingin memiliki keluarga. Jujur ini adalah hal yang paling bikin kepikiran karena saya bener-bener nggak tau harus mulai dari mana. This 27-year old guy has never been in a relationship! Cari kerja aja males karena takut ditolak, apalagi cari pacar!
 
Dalam menjalin hubungan baik pacaran maupun menikah, satu hal yang saya akan pegang adalah perkataan Raditya Dika, yakni “menikah itu bukan niatnya untuk mengubah orang lain”. Walaupun pandangannya kejauhan karena definisi dan benchmark “pasangan yang enak diajak ngobrol” aja belum dapet, udah mikirin nikah. Namun balik lagi ke pernyataan saya sebelumnya di mana saya berusaha mengurangi memikirkan hal-hal yang di luar kontrol saya, pasangan hidup juga tidak seharusnya “dikontrol” cara berpikir dan sifatnya.
 
Wah makin ke bawah kenapa jadi makin berat ya omongannya.
 
Dua tahun lalu di ulang tahun ke-25 saya sempat menuliskan bahwa saya merayakan ulang tahun di pesawat, Qsuite-nya Qatar Airways pula, supaya bisa melarikan diri dari yang namanya quarter life crisis. Temen saya sempet ngomel sambil bilang, “emang quarter life crisis kejadiannya pas di hari ulang tahun ke-25?!”. Awalnya saya skeptis dan masih bisa haha-hihi. Namun belakangan ini dengan hal-hal yang saya ceritakan di atas, sepertinya saya sedang berada di fase ini. Growing up is not easy… :(

2 comments:

  1. Semangat kak Refky!! Aku udah ngikutin kakak sejak lama, mungkin karena sama-sama anak TF juga kali ya (?) HAHAHAH. Aku sekarang udah tingkat akhir dan lagi bingung-bingungnya juga nyari "passion" atau kerjaan yang pas. Perasaan sejak dulu pernah punya mimpi menjadi "sesuatu" dan udah capek dikejar juga tapi entah kenapa pas udah cukup dekat ada beberapa hal yang menghalangi dan bikin kembali mempertanyakan semuanya dari awal. Lhoh?! kok malah cerita di sini. Anyway, I enjoy your blog A LOT kak!! Thanks for sharing

    ReplyDelete
  2. I feel you Ekky, diumur gw segini, dimana temen dah married punya anak 2 or 3, dah udah punya kehidupan masing2, terkadang pengen ada temen berbagi cerita.

    ReplyDelete