Monday, September 14, 2020

Review: Raffles Jakarta

Raffles Jakarta adalah salah satu hotel di Jakarta pengen banget saya coba untuk staycation karena merupakan salah satu hotel bintang 5 yang lebih mewah dari hotel bintang 5 lainnya berhubung membawa brand Raffles. FYI Raffles merupakan chain hotel yang asalnya dari Singapore yang sekarang sudah diakuisisi oleh Accor. Hotel di Jakarta sendiri berdiri tahun 2015 sehingga masih tergolong baru.


Di suatu hari Kamis pagi saya iseng buka Traveloka untuk cek apakah ada hotel yang turun harga untuk staycation hari Sabtu dan betapa kagetnya saya ketika lihat harga Raffles turun dari yang biasanya mulai dari Rp 3,4 juta jadi Rp 2,5 juta. 30% loh itu diskonnya. Udah termasuk sarapan pula untuk 2 orang! Karena belum pernah lihat hotel ini dengan harga segini ditambah saya ada beberapa kupon yang bisa dipakai, jadilah saya book pagi itu untuk stay 2 hari lagi.

Pre-arrival dan Check-in
Setelah selesai memesan hotel, malam harinya saya kirim email ke hotel (JAKARTA@raffles.com) untuk mencari tau apakah saya bisa melakukan early check-in. Hal ini biasa saya lakukan jika staycation karena pengen lebih lama di hotel karena waktu check-in normal adalah jam 14.00. Keesokan harinya saya mendapatkan balasan bahwa saya sudah bisa check-in dari jam 10.00!!! Kaget banget bacanya karena ini check-in terpagi saya. Sebelumnya saya dikasih check-in jam 12 oleh Grand Hyatt Jakarta dan tidak bisa dipastikan untuk early check-in ketika menginap di Sheraton Grand Gandaria City walaupun bisa masuk kamar 30 menit sebelum jam 14.00. Saya terkesan sekali dengan Raffles Jakarta yang sangat baik dengan memberikan check-in jam 10 pagi.


Setelah itu saya dikirimi email lagi tentang pre-arrival. Selain mengisi data pribadi yang digunakan untuk mempercepat proses check-in nantinya, saya juga memesan beberapa item seperti Foam Pillow, Neck Supporting Pillow, Praying Mat, dan HDMI Cable.


Karena berasa pagi banget kalo dateng jam 10, jadi saya baru berangkat dari rumah jam 10 dan tiba di hotel jam 10.45. Pagi itu driveway hotel sepi sekali, begitu juga dengan lobby hotel. Tidak ada orang yang “menyambut” ketika turun mobil dan mengarahkan sehingga saya rada bingung gimana masuknya. Terlebih ketika sudah melalui security check tidak ada yang mengarahkan ke resepsionis dan saya sok pede aja jalan terus. Sambil celingak-celinguk, akhirnya saya menemukan resepsionis di ujung sebelah kiri.

Lobby hotel ini berasa sekali megahnya dengan aksen karpet merah, chandelier biru yang besar, serta lukisan yang nggak kalah besar. Kursinya tergolong terbatas namun sisi positifnya adalah bisa mengurangi kerumunan di lobby.



Check-in berjalan sangat lancar dan pesanan saya di pre-arrival email sudah di-acknowledge. Check-in-nya sambal duduk, btw. Penanda hotel mewah nih haha. Saya baca beberapa review kalau tamu suka diberikan penawaran untuk upgrade kamar ke Artisan Suite dengan harga terjangkau, namun kala itu saya tidak ditawarin. Mungkin karena saya datang terlalu pagi sehingga belum ada suite yang ready. Padahal saya penasaran sih penawarannya berapa berhubung selisih harga Raffles Room dengan Artisan Suite ini sekitar Rp 1,8 juta ketika saya memesan.

Deposit sebesar Rp 1 juta saya taruh di kartu kredit. Saya juga ditawarkan welcome drink yang akan diantarkan ke kamar. Sebenernya saya pengennya ice chocolate dan pernah baca review ada yang dikasih ini juga. Namun ketika saya tanya pilihannya apa aja (karena takut disuruh bayar extra haha), pilihannya adalah teh, kopi, dan jus. Akhirnya saya pilih jus semangka.

Ketika sedang menuju lift untuk ke kamar bersama associate yang melayani saya, seseorang menghampiri saya dan mengajak ngobrol. Beliau bilang bahwa beliau menemukan blog saya dan baca cerita perjalanan saya. Oleh karena itu beliau mengundang saya untuk merasakan afternoon tea di The Writers Bar hari Minggu jam 3 sore karena afternoon tea merupakan salah satu signature experience dari Raffles Hotel brand. Wow saya takjub banget dengernya. The amount of attention to the guest was the next level! Beliau kemudian memberikan kartu namanya kepada saya. Terima kasih, Mbak Etha!


Raffles Room – Garden View (?)
Saya diberikan kamar di lantai 23, lantai tertinggi kamar standard karena lantai 24 dan 25 merupakan lantai untuk kamar Signature yang harganya juga lebih premium.



Walaupun tidak ada nama “Suite”, namun dengan luas 60 meter persegi dan layout ruangannya menurut saya ini tergolong Suite. Begitu masuk terdapat foyer yang di sebelah kanannya merupakan powder room dan sekalian storage room, di sebelah kiri ada sliding door menuju kamar mandi, serta di depan ada living room.


Powder Room/ Storage Room 
Powder room-nya tidak dilengkapi sliding door karena memang ukurannya tidak besar.



Di sebelah kanan ruangan ini terdapat tempat untuk meletakkan koper dan di bawahnya merupakan rak alas kaki. Sendal hotelnya dibungkus dengan manis menggunakan pita. Cantik!



Di sebelah kiri terdapat lemari yang isinya tipikal fasilitas hotel yakni brangkas, laci-laci, payung, hingga tipikal fasilitas hotel bintang 5 yakni papan setrika.


Living Room
Living room kamar ini terdiri dari sofa untuk 3 orang dan mejanya serta ada TV.



Di sebelah kanan living room terdapat meja kerja dengan kursi yang ergonomis. Mungkin karena lokasinya yang di kawasan Mega Kuningan sehingga target market hotel ini kebanyakan business traveler. Hal ini makin kuat ketika saya buka laci di mejanya dan menemukan banyak alat tulis kantor seperti stabilo, paper clip, sticky notes, bahkan penghapus. Baru sekali nih ketemu barang-barang ini.




Saya melakukan speed test wifi di Raffles dan hasilnya adalah 1.28 MBps upload dan 1.19 MBps download (satuan megabyte ya bukan megabit). Tergolong lambat apalagi buat ukuran hotel di kawasan bisnis. Kecepatan internet ini jauh di bawah Grand Hyatt Jakarta dan Sheraton Grand Jakarta yang download-nya di atas 5 MBps.


Di sebelah kiri living room terdapat minibar mulai dari coffee machine, complementary mineral water, kopi dan teh. Tehnya merk TWG loh. Akhirnya ketemu lagi dengan TWG di hotel. Kayaknya terakhir ketemu tahun lalu pas staycation di St. Regis Kuala Lumpur. Ada 4 bungkus TWG yang variannya beda-beda yakni earl grey, English breakfast, chamomile, serta sencha kalo nggak salah.




Berbagai macam gelas terletak di lemari bagian atas.


Sementara kulkas minibar dan pemanas air terletak di bawah. Karena sedang PSBB, minibar kosong.



Bedroom 
Ruangan berikutnya adalah kamar tidur. Saya memilih tempat tidur jenis king karena menginap sendirian. Terdapat 4 bantal dan 1 guling kecil yang sepertinya hanya dekorasi karena keras. Di depan kasur terdapat bench juga untuk duduk-duduk santai.


Pesanan saya berupa bantal dan sajadah sudah tersedia di kamar, lengkap dengan surat dari butler.




Kualitas kasur, duvet, dan bantal seperti layaknya hotel bintang 5. Nyaman banget deh pokoknya karena saya tidurnya pules. Plus saya juga bingung nge-review-nya gimana sebenernya haha.


Terdapat boneka beruang yang menggunakan jas putih dengan aksen kain batik yang ketika saya googling ternyata merupakan maskot Raffles Jakarta yang bernama Stamford the Bear. Lucu banget! Saya tanya ke butler via WhatsApp (akan saya jelaskan lebih lanjut tentang fasilitas ini) apakah boleh saya bawa pulang bonekanya dan diizinkan. Yess dapet tambahan ke koleksi mainan gratisan dari liburan. Setau saya hotel yang kasih boneka cuma Conrad soalnya.


Pada masing-masing sisi kasur terdapat nightstand serta berbagai tombol untuk mengatur lampu di kamar serta colokan. Cuma kurang tombol untuk buka-tutup gorden secara otomatis aja nih. Jam yang terdapat di kasur juga tergolong minimalis cenderung jadul. Sayang saya nggak ada foto jamnya.




Di dalam terdapat TV dengan ukuran yang sama dengan di living room.


Ketika saya lihat jendela, saya cukup kaget karena ada pemandangan kolam renang dan taman. Wah sepertinya saya dapat upgrade karena Raffles charge premium untuk kamar dengan Garden View. Beda harganya sekitar Rp 400 ribu hingga 500 ribu. Terima kasih untuk upgrade kamarnya, tim Raffles Jakarta!


Bathroom
Ruangan terakhir adalah kamar mandi yang luas. Terdapat beberapa area seperti sink, bathtub, shower, serta toilet. Satu-satu ya.



Area sink ini memiliki double sink dengan cermin yang besar.


Amenities lengkap kamar mandi terdapat di laci seperti sisir, shower cap, sikat gigi, sampai mouth wash.


Area berikutnya adalah bathtub yang memiliki latar lukisan (?) karya Hendra Gunawan yang berjudul Digigit Kepiting.



Terdapat loofah dan bath salt juga, penanda lain bahwa ini beneran hotel mewah haha.


Kurangnya paling nggak ada TV kecil di depan bathtub seperti di St. Regis Kuala Lumpur atau The Majestic Kuala Lumpur. Tapi plusnya terdapat dudukan di kepala sehingga lebih nyaman ketika berendam.


Area berikutnya adalah shower yang di dalamnya terdapat 2 jenis shower yakni handheld dan rain shower. Water pressure keduanya besar jadi mandinya enak. Handheld showernya rada aneh trajectory airnya karena biasanya langsung jatuh, tapi ini kayak melengkung ke atas jadi jauh banget jatohnya dan harus menyesuaikan volumenya biar pas ketika dipakai wudhu.


Toiletries yang digunakan adalah merk designer Indonesia yakni Rinaldy Yunardi. Ketika baca botolnya, ini adalah designer yang sering buat headpiece buat artis-artis bahkan sampai artis Hollywood seperti Beyoncé dan Taylor Swift. Walaupun kualitas dan baunya standar sabun dan sampo pada umumnya dan ukurannya yang lebih besar dari biasanya (65 mL vs 30-50 mL), namun sebenernya saya berharap merk yang digunakan adalah merk internasional supaya bisa menambah koleksi saya. Ketauan deh suka bawa pulang toiletries hotel :))


Ruangan terakhir adalah toilet yang di dalamnya terdapat Japanese toilet dengan tombol-tombol yang canggih mulai dari ngeluarin air hingga mengeringkan pantat. Selain itu dudukannya juga dilengkapi pemanas. Hotel pertama di Jakarta yang toiletnya seperti ini karena ketika menginap di Four Seasons Jakarta toiletnya adalah tipe standar. Keren!



Oh ya, bathrobe hotel ini juga unik karena bukan bathrobe hotel standar warna putih melainkan berbahan tipis. Bathrobe ini merupakan karya dari designer Indonesia yakni Oscar Lawalata. Nuansa Indonesianya kental di bathrobe ini. Walaupun saya cuma pake bathrobe ketika di hotel, saya lebih suka yang model bathrobe plush. Berat sih, tapi lebih nyaman karena yakin lebih bisa mengeringkan badan yang basah. Sementara itu karena bathrobe ini bahannya tipis jadi kelihatan kurang bisa mengeringkan. Saya nggak pake bathrobenya sih jadi nggak tau apakah bisa efektif mengeringkan atau nggak.



Ketika masuk kamar, sudah ada welcome amenities menanti berupa macarons yang enakkk banget. Manisnya pas menurut saya yang suka manis. Selain itu jus semangka saya diantarkan sekitar 40 menit setelah saya masuk ke kamar.


Karena sedang di masa PSBB, saya juga diberikan hygiene set lengkap berisi masker, hand sanitizer, tisu basah, serta sarung tangan karet. Keren! Pengennya dikasih pouch juga kayak tamu di Raffles Singapore tapi ya harga kamarnya aja berkali-kali lipat jadi yasudah tidak banyak minta haha.


Sarapan di Arts Café
Ketika check-in saya diinfokan bahwa untuk sarapan saya bisa pilih untuk datang langsung ke Arts Café di lantai 1 atau diantarkan ke kamar tanpa biaya tambahan. Pengennya sih dianterin langsung ke kamar karena belum pernah cobain in-room breakfast. Namun karena lebih penasaran lagi sama tempat sarapannya dan kalo dateng langsung bisa coba lebih banyak makanan, saya memutuskan untuk datang langsung ke tempatnya.


Sarapan dimulai dari jam 06.00-10.00 dan saya datang sekitar jam 07.20. Area duduk dibagi ke 3 bagian dan waktu itu bagian paling ujung sudah ramai sementara bagian tengah kosong melompong. Walaupun hampir diarahkan ke bagian yang penuh, saya minta untuk di bagian tengah dan diperbolehkan. Saya ditanya mau minum apa dan minta teh dengan susu.



Breakfast spread-nya menurut saya sangat terbatas untuk ukuran bintang 5. Pilihannya jauh lebih sedikit dibanding Grand Hyatt Jakarta ketika COVID apalagi Ritz-Carlton Mega Kuningan sebelum COVID. Kurang tau juga apakah ini karena COVID-19 atau memang biasanya seperti ini, tapi secara luas, area sarapan memang jauh lebih kecil.


Ada bagian hot dishes seperti nasi uduk, nasi goreng + bihun goreng, telur, serta pancake plus waffle.


Di tengah ada 2 bagian, yakni di satu sisi terdapat buah, sereal, dan roti, serta di tengah terdapat salad dan sushi yang limited sekali spread-nya.



Seperti biasa, saya memulai dengan makan buah. Setelah itu liat hot dishes-nya kok nggak nafsu makan karena pilihan yang seadanya. Akhirnya saya mendatangi egg station dan melihat omelette yang menyedihkan sekali. Bahkan omelette di hotel bintang 3-4 lebih bagus bentuknya lebih ini dan lebih panas. Ketika memberikan omelette, kokinya bilang bahwa saya bisa pesan menu lain dengan scan QR code di meja. Loh?




Ternyata Arts Café ini punya system a la carte buffet juga di mana pengunjung yang nginepnya dengan sarapan bisa pilih makanan yang ada di menu sepuasnya. Kok nggak dibilangin dari awal ya sama petugas yang anterin saya ke kursi? Saya merhatiin tamu setelah saya diinfokan ternyata begitu mereka duduk kalau bisa order semua menu sarapan dengan scan QR code. Menunya nggak wow banget menurut saya, tapi lumayan banyak pilihannya mulai dari makanan Indonesia, Asia, sampai barat.




Saya pilih eggs benedict sebagai menu pertama. Ini ciri-ciri hotel mewah nih kalo sarapan ada menu eggs benedictnya haha. Setelah order, 5 menit kemudian saya diinfokan bahwa salmon-nya sudah habis dan tinggal beef bacon. Aneh banget padahal baru jam 07.50 tapi masa udah kehabisan salmon, dalam kondisi sepi pula. Begitu dateng, ternyata eggs benedict-nya hanya dengan 1 butir telur. Beberapa kali saya makan eggs benedict gratisan (di hotel atau lounge), serving-nya selalu 2 butir, kecuali saya minta. Baru sekali ini dikasih 1 butir. Padahal kalo lihat menu a la carte-nya harga eggs benedict-nya Rp 145.000, plus di gambarnya emang 2 telur dalam 1 serving. Atau yang ambil buffet diberikan porsi lebih sedikit dengan hanya memberikan 1 telur untuk antisipasi tamu order menu kebanyakan? Untungnya eggs benedictnya enak dengan hollandaise sauce dan telur yang kuningnya beleberan ketika dipotong.


Berikutnya saya pesan chicken noodle soup dan batagor yang rasanya juga biasa aja. Saya saranin kalo mau coba beberapa menu, langsung pesen aja sekalian semuanya karena lumayan lama nunggunya. Bagus sih berarti dimasaknya fresh. Tapi garing juga nunggu eggs benedict 25 menit, mie 10 menit, batagor 7 menit.



Ketika lagi makan, saya mendengar meja sebelah kaget dan berkomentar bahwa porsi makanan yang diberikan kecil sekali dan petugasnya rada salting dan bilang bahwa boleh order lagi jika berkenan. Tuhkan, bukan saya aja yang merasakan seperti ini.

Protokol PSBB tidak diterapkan dengan baik menurut saya. Misalnya di bagian pengambilan buah. Saya nggak tau itu sebenernya disuruh ambil sendiri apa diambilin berhubung ada tali pembatasnya. Kalo diambilin, nggak ada orang yang jaga walaupun saya udah berdiri sebentar di belakang garis. Kalo ambil sendiri, kok bisa ya kan lagi PSBB gini yang harus minimalisir kontak. Di bagian tengah jelas banget menurut saya harus diambilin karena sekelilingnya ditutup tali. Namun beberapa kali nggak ada orang yang standby di dalam dan harus nunggu dulu untuk dilayanin. Saya sampai lihat ada tamu yang berdiri dari luar tali dan mencoba ambil jus jeruk sendiri. Baru setelah itu petugasnya datang menghampiri untuk ambilin jus.

Sarapan di Arts Café merupakan hal paling tidak mengenakkan dari staycation di Raffles Jakarta. Saya kurang tau Arts Café ini punya Raffles juga atau bukan, namun karena merupakan lokasi sarapan bagi tamu Raffles seharusnya standarnya juga sama dan konsisten. Sayang soalnya pengalaman menginapnya sudah oke banget namun sarapannya mengecewakan.

Fasilitas Hotel
Berbagai fasilitas hotel terletak di lantai 14 seperti kolam renang, gym, spa, serta taman. Kolam renangnya tipikal hotel di tengah kota yang bentuknya persegi panjang dan ukurannya besar.



Untuk anak-anak yang mau berenang, di ujung-ujung kolam terdapat kolam yang dangkal dan bisa digunakan untuk bermain.


Ada kolam jacuzzi juga sepertinya (saya nggak tau apaan, tapi berbuih gitu) yang letaknya terpisah.


Di sekeliling kolam terdapat banyak pool chair/ bed dan ada beberapa gazebo juga. Nggak tau itu gratisan apa harus pesen di Navina pool bar buat duduk.



Melalui jalan setapak dari area kolam renang, terdapat taman yang luas dan jogging track. Keren sih ini, baru sekali staycation di hotel dengan taman seluas ini.


Selain itu terdapat taman bermain anak juga.


Fasilitas lain yang spesial hotel ini adalah adanya 2 lapangan tenis dan 1 lapangan basket. Di lantai 14 loh itu (atau 12 ya itu berhubung harus turun tangga dulu). Kalo terlalu semangat mainnya dan bolanya keluar lapangan, bisa jatuh ke lantai dasar itu.


Peralatan gym-nya cukup lengkap menurut saya.



Spa juga ada di lantai 14, namun karena PSBB jadi tutup. Selain itu terdapat lobby bar bernama The Writers Bar dan restoran bernama The Dining Room.

Karena terletak di lokasi yang sama dengan Kuningan City, tamu bisa langsung ke mall dari lantai 1. Sayangnya info sambungan hotel dengan mall ini kurang jelas jadi saya sempet bingung gimana caranya ke mall dari hotel.

Berhubung saya menginap ketika sedang PSBB transisi, jadi hotel menerapkan berbagai prosedur PSBB seperti pembatasan jumlah orang dalam lift, sekat akrilik di meja check-in, serta hand sanitizer di mana-mana. Hand sanitizernya touchless loh. Canggih.


Servis Hotel
Semua tamu yang menginap mendapatkan fasilitas butler. Memanfaatkan teknologi yang ada, butler ini bisa dihubungi melalui WhatsApp. Saya tau ini karena mereka yang berinisiatif menghubungi saya terlebih dahulu. Buat orang yang males telponan, ngobrol lewat WhatsApp ini jadi poin plus buat butler-nya Raffles dibanding St. Regis.


Sejujurnya saya nggak banyak meminta bantuan ke butler karena tidak dijelaskan apa saja yang butler ini bisa lakukan dengan gratis. Ini penting untuk tau mana yang gratis, mana yang harus bayar. Waktu di St. Regis pas check-in dijelasin apa aja yang gratisan seperti upacking dan packing serta bikinin kopi, teh, hingga hot chocolate. Di Raffles mungkin kurang lebih sama, tapi saya nggak yakin dan tidak memastikan juga ke mereka. Jadinya pas mau minum teh ya saya bikin sendiri aja. Tapi ketika lagi makan siang di mall saya dikirimin pesan lewat WhatsApp oleh butler yang menawarkan fruit platter. Saya bilang bisa langsung diletakkan di kamar jam 14.30. Begitu balik ke kamar, udah ada fruit platter di kulkas. Buahnya manis semua! Oh ya, karena buahnya manis jadi pas sarapan saya ambil juga dong buahnya berhubung sama tuh (semangka, melon ijo, melon orange). Eh ternyata yang di tempat sarapan kagak manis..


Petugas di resepsionis juga ramah sekali. Ketika check-out saya diberikan box berisi kue dari Patisserie, toko kue-nya Raffles. Enak banget kuenya!


Mengenai servis, yang bisa diperbaiki menurut saya ada 2 yakni ketika tamu baru datang alangkah baiknya jika ada yang mengarahkan lewat pintu mana dan menawarkan membawakan barang. Barang saya nggak banyak sih untungnya jadi bisa sendiri, tapi tetep aja bingung masuknya gimana.. Mungkin juga masih kosong karena saya tiba sebelum jam 11 jadi belum siap petugasnya. Namun berhubung itu yang kasih green light dateng pagi dari pihak hotel, ada baiknya semua sudah siap.

Kedua adalah petugas di area kolam renang. Hotel bintang 5 punya tendensi tinggi untuk menjaga privasi tamunya yang mana saya sangat apreasiasi. Jadi ketika lihat saya foto area kolam, mereka seakan bener-bener merhatiin gerak-gerik saya. Saya tau diri kok dan sebisa mungkin nggak foto muka tamu lain sampe nge-zoom banget, tapi kalo diliatin banget juga jadi agak risih. Terlebih ketika saya sudah selesai keliling kolam dan ingin kembali ke dalam, petugas tersebut menanyakan saya menginap di kamar berapa. Buat apa coba nanya saya nginap di kamar berapa ketika saya sudah meninggalkan area kolam?

Bonus: Afternoon Tea di The Writers Bar
Mbak Etha dengan sangat baik dan ramahnya mengundang saya untuk menikmati afternoon tea di The Writers Bar di hari Minggu jam 3 sore. Oleh karena itu saya diberikan late check-out jam 3 sore. Enak banget deh staycation hamper 29 jam, di Raffles pula! Setelah check-out saya langsung menuju The Writers Bar yang terletak di lobby.


Suasanya sangatlah nyaman. Kala itu cuma ada 2 pengunjung lain di ruangan, sisanya di luar semua. Ada chandelier tinggi banget dari atas ruangan sampai bawah. Suasana tambah enak karena lagu yang diputer adalah versi instrumental lagu-lagu jadul semacam Mack the Knife.




Saya pesan Raffles Jakarta Tea yang pas dateng harumnya enak bangettt. Sempet diceritain sama pelayannya kalo teh ini merupakan signature-nya Raffles Jakarta, sesuai namanya. Tehnya dibuat oleh TWG dan terdapat rempah-rempah khas Indonesia. Nggak heran baunya enak dan menyegarkan banget.


Saya menunggu sekitar 30 menit sebelum afternoon tea set-nya dateng. Ketika lagi nunggu, ada petugas yang mendekat ke meja saya dengan membawa bingkai besi. Saya kira itu buat semacem pajangan karena di kursi kosong sebelah saya juga diletakkan bingkai tersebut. Ternyata eh ternyata afternoon tea set-nya gede bangettt dan bingkai tersebut digunakan untuk menggantung sarang burung tempat diletakannya set afternoon tea. Wah!!


Afternoon tea set-nya terdiri dari 3 tingkat di mana tingkat dasar adalah savoury bites, tingkat kedua sweets, dan tingkat paling atas adalah scones. Semua item diberikan 2 yang mungkin menunjukkan bahwa set ini untuk porsi 2 orang.


Ini merupakan pertama kalinya saya melakukan afternoon tea yang sesungguhnya. Sebelumnya pernah pilih menu afternoon tea ketika naik pesawat yakni Qatar Airways business class dari Doha ke Sydney yang tampilan afternoon tea-nya cenderung minimalis tanpa tingkatan.


Kedua adalah ketika terbang dari Hong Kong ke New York dengan Cathay Pacific first class di mana tampilannya bener kayak afternoon tea namun ukuran mini karena 2 tingkat aja.


Berhubung pengalaman pertama dan tempatnya fancy, jadilah ketika duduk saya googling dulu cara makan afternoon tea yang benar. Pernah baca di mana gitu katanya ada urutannya soalnya tingkat mana dulu yang dimakan. Ternyata urutan makannya adalah dari tingkat dasar (savory), ke tingkat atas (scones), lalu tingkat tengah (sweets). Mari kita mulai!

Tingkat dasar merupakan savory bites. Terdapat 5 menu yang saya nggak tau namanya apa masing-masing, tapi sepenglihatan saya terdapat vegetable roll, salmon dan caviar ala-ala (kecil banget soalnya ukurannya), ada udang, ada cake dengan salad (?) dan telur, serta beef sandwich. Karena belum makan siang kali ya, jadi enak bangettt semua rasanya haha.







Kemudian saya makan scones-nya. Buat makan scones saya lebih ada ilmunya lah karena udah pernah makan sebelumnya yang di pesawat itu. Scones-nya ada yang polos dan ada yang dikasih kismis/ berry (nggak yakin itu apa). Condiments-nya adalah clotted cream, preserved berry jam, dan lemon curd. Enakk!



Terakhir adalah sweets yang terdiri dari 4 slice kue dan 1 macarons. Cantik dan enak semua kuenya. Favorit saya 1 kue yang lembut, karena perut udah begah juga kayaknya waktu itu, jadi makan kue yang telalu padet bikin tambah begah.




Penutup
Staycation di Raffles Jakarta merupakan staycation terbaik yang pernah saya rasakan. Ketika staycation maunya kan lama-lama di hotel dan itu yang diberikan oleh Raffles. Check-in jam 10 pagi, check-out jam 3 sore. Kamar luas, modern, serta style yang enak diliat dan yang terpending nyaman ketika tidur. Pelayanan yang sangat ramah bahkan sebelum tiba di hotel lewat pre-arrival service, hingga petugas yang saya temui hampir semuanya ramah.


Hal yang bisa diperbaiki tentu saja sarapannya. Sudah bagus menurut saya karena menawarkan a la carte buffet. Namun seharusnya dijelaskan dengan baik ketika tamu datang dan pelayanannya kalau bisa lebih cepat dan dibuat konsisten dengan standar di Raffles supaya pengalamannya tidak jomplang. Catatan improvement lainnya menurut saya minor karena saya beneran mikirin, “ini hotel kurangnya apa ya?” haha. Kudos untuk Raffles Jakarta dan seluruh timnya. Saya bener-bener merekomendasikan untuk staycation di Raffles Jakarta. Definitely will be coming back setelah menginap di beberapa hotel-hotel lain di Jakarta yang masih ingin saya coba.

Oh ya. Cara penyebutannya Raffles adalah "ra-fels", seperti menyebut raffle yang artinya undian. Sejak pertama tau Raffles Hotel kirain cara pronounce-nya adalah "raf-les" karena saya pikir diambil dari Rafflesia Arnoldi, berhubung logonya juga berbentuk pohon kan. Udah lancar di awal-awal nginep nyebutnya “rafels” tapi di ujung pas lagi ngobrol sama server di The Writers Bar gak sengaja nyebut “rafels” terus dia nanggepin pembicaraan dengan penyebutan yang benar. Konteksnya saat itu kita lagi ngomongin Raffles Jakarta Tea, jadi Raffles ini sering disebut. Terus saya ada sedikit rasa malu haha.

Untuk yang mau nonton video saya di Raffles Jakarta bisa nonton di YouTube berikut ya.

1 comment:

  1. Wow, enggak heran sih kalo ini disebut sebagai salah satu staycation terbaik! Super banget fasilitas dan layanannya, meski ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Namun ada 2 hal yang aku suka banget, boleh check in pukul 10 pagi (meaning, bisa leha-leha lebih lama di hotel yang cakep sambil ngonten tentunya), dan yang kedua dikasih boneka! Hihihi.

    Will surely put this hotel on my list! Thanks a lot for the comprehensive hotel review. Berkat baca tulisan ini, aku jadi belajar gimana caranya bikin review hotel yang asik. :D

    ReplyDelete