Saturday, May 26, 2018

Pengalaman Ketinggalan Bagasi dan Panduan Menyelesaikannya

Setibanya di Helsinki Airport setelah perjalanan 7 jam dari Amman (termasuk transit di Kiev selama 2 jam), saya melangkah ke bagian imigrasi. Sudah nggak sabar untuk menginjakkan kaki di Finlandia dan Scandinavia, termasuk Longyearbyen yang udaranya sejuk setelah panas-panasan selama di Jordan.

Copenhagen, salah satu tujuan liburan

Walaupun hanya pesawat kami yang tiba di Helsinki pada waktu tersebut, tapi antrian imigrasi berjalan sangat lambat. Sepengamatan saya sih karena petugasnya bertanya detail ke masing-masing pengunjung. Sekitar 3 orang nggak langsung diizinkan masuk, melainkan mesti ke ruangan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Butuh waktu sekitar 30 menit bagi saya yang berdiri di antrian bagian belakang untuk menyelesaikan proses imigrasi dan melangkah ke area pengambilan bagasi.

Setibanya di sana, layar di belt bagasi saya udah menunjukkan “LAST BAG” tapi belum ada bagasi saya di conveyor belt. Belt-nya masih bergerak, tapi sudah tidak ada bagasi lain yang keluar. Hingga akhirnya belt berhenti dan bagasi saya masih tidak nampak.

Helsinki Airport Baggage Hall

Wow, oke. Saya dalam perjalanan menuju Longyearbyen yang terletak di lingkar kutub utara dengan suhu berkisar -3 derajat sampai 5 derajat Celcius namun bagasi saya yang berisi semua pakaian musim dingin saya tidak ikut tiba bersamaan dengan saya di Helsinki. Butuh beberapa saat untuk memroses ini semua. Drama banget :p

Apa yang harus dilakukan saat ketinggalan bagasi?

1. Melapor ke petugas lost luggage di baggage claim area

Tidak jauh dari conveyor belt, saya dan satu penumpang lain dari Tel Aviv mendatangi counter lost luggage untuk melapor bahwa bagasi kami tidak terangkut. Sebenernya saya sempet memikirkan kemungkinan bagasi saya tidak sengaja terbawa oleh penumpang lain, tapi karena semua bagasi sudah diambil oleh masing-masing penumpang, kemungkinan bagasi tertukar ini menjadi kecil. Oleh karena itu saya melapor ke petugas terlebih dahulu untuk mendapatkan surat keterangan ketinggalan bagasi dari maskapai/ baggage handler.

Surat keterangan dari baggage handler, Swissport

Blogger Tricks

Tuesday, May 15, 2018

Liburan di Polandia dan Negara Baltik (Lithuania, Latvia, Estonia)

Walaupun udah bertekad mau mengurangi jumlah liburan di tahun 2017, begitu selesai liburan di Eropa Tengah, saya malah cari tiket untuk liburan lagi. Kenapa? Karena saya inget punya Qcredits yang bisa dipakai untuk upgrade tiket Qatar Airways dari economy ke business class.

Seperti yang saya jelaskan di tulisan sebelumnya, sebaiknya Qcredits sebanyak 40 digunakan untuk upgrade tiket sekali jalan dari Asia ke Eropa atau sebaliknya, atau dari Doha ke US dan Australia. Berhubung nggak mau ribet urus visa lagi, saya pilih Eropa. Kemudian saya cari rute mana di Eropa yang harga tiketnya murah dan tersedia kursi untuk upgrade ke business class. Setelah memastikan kalo tersedia kursi upgrade di rute Helsinki – Doha dan Doha – Jakarta, saya cari-cari mau masuk Eropa dari negara mana.

Long story short, saya memutuskan untuk masuk dari Warsaw dan liburan ke Polandia dan negara Baltik (Lithuania, Latvia, dan Estonia). Tiket ke Warsaw yang murah hanya tersedia untuk berangkat dari Bangkok atau Hanoi. Berhubung saya belum pernah ke Hanoi, jadilah sekalian mampir ke sana untuk transit sekitar 8 jam.

Wroclaw's Rynek (Market Square) View from St. Elizabeth's Church Tower

Itinerary
Day 0: Jakarta – Kuala Lumpur
Dari Jakarta ke Kuala Lumpur naik Malaysia Airlines. Walaupun tiketnya di kelas termurah dan nggak dapet miles ke frequent flyer program Qatar Airways, saya masih bisa dapet elite perks berupa priority check-in, lounge, dan sebagainya. Berhubung penerbangan ke Hanoi baru besok pagi, saya memutuskan untuk menginap di Capsule by Container Hotel klia2.

Capsule Hotel klia2

Sunday, May 6, 2018

Manfaat Memiliki Elite Frequent Flyer Status: Qatar Airways Privilege Club

Tanggal 28 Maret lalu saya dapet email dari Qatar Airways Privilege Club kalau Gold membership saya berhasil diperpanjang setahun ke depan. Horeee! Berhubung sudah beberapa orang tanya gimana cara saya terlihat gegayaan masuk-keluar lounge padahal naik pesawat kelas ekonomi (#pencitraan), berikut saya share beberapa manfaat memiliki elite status sebuah maskapai karena lounge access adalah salah satu manfaatnya.

Berhubung saya cuma punya pengalaman punya elite status di Qatar Airways, cuma ini yang saya bisa share.

Tulisan ini akan saya bagi menjadi 4 bagian:
  • Manfaat elite status dari maskapai Qatar Airways
  • Manfaat dari aliansi/ alliance oneworld (alliance-nya Qatar Airways)
  • Cara untuk memiliki elite status sebuah maskapai (spesifiknya Qatar Airways Privilege Club)
  • Apakah perlu memiliki elite status suatu maskapai
Qatar Airways Privilege Club Gold, Silver, and Burgundy Membership Card

Manfaat Elite Status dari Qatar Airways Privilege Club (QRPC)
Membership program Qatar Airways yang bernama Privilege Club memiliki 4 tier atau level. Dari level bawah ke paling atas, yakni: burgundy, silver, gold, dan platinum. Level burgundy punya benefit yang minim (malah kayaknya hampir nggak ada) berhubung hanya cukup sign up programnya, sementara platinum punya benefit yang paling lengkap. Mari bahas benefitnya satu-satu.

1. Tier bonus
Setelah terbang, kamu akan dapet miles yang besarnya sesuai kelas dan subkelas terbang. Kelas yang dimaksud adalah economy, business, dan first class. Sementara subkelas contohnya economy promo, economy saver, economy value, dan economy flexi. Semakin mahal tiket kamu, biasanya semakin banyak miles yang bakal didapatkan. Kenapa saya bilang biasanya? Karena ada masa-masa di mana harga tiket business promo lebih murah dari economy flexi tapi miles yang didapatkan lebih banyak, karena pada dasarnya earning rate miles first class > business class > economy class. Untuk Qatar Airways sendiri earning rate masing-masing subclass adalah sebagai berikut:

Qmiles earning rate

Percentage di tabel adalah persen dari jarak terbang.

Contoh lebih jelasnya gini. Misalnya kamu beli tiket Jakarta – Paris PP di kelas ekonomi promo (subclass O). Berarti total miles yang kamu dapatkan adalah 25% dari jarak Jakarta – Doha – Paris – Doha – Jakarta, which is sekitar 3,692 miles. Pusing ngitungnya? QRPC udah siapin QCalculator, kalkulator buat ngitung berapa miles yang kamu dapetin.

Qmiles earning Jakarta — Paris round-trip

Monday, March 26, 2018

Jalan-Jalan di Tromso dan Lofoten Islands, Norwegia

Morning in Lofoten Islands

MENGAPA NORWEGIA?
Duh, harus ditanya ya setelah liat foto di atas? Kidding :p

Di bulan Agustus tahun lalu ketika Qatar kasih promo sekitar Rp5 juta untuk PP ke Eropa, saya iseng ngelempar info ke beberapa temen SMP, temen SMA, dan temen kosan saya. Ketiganya sama-sama heboh, tapi 2 hanya jadi wacana. Temen SMA saya yang nggak lama sebelumnya ketemuan buka puasa dan berakhir dengan kalimat “jalan-jalan bareng yuk!” langsung impulsif dan beli tiketnya. Temen SMA saya ini emang paling bisa diandalkan kalau jalan-jalan random. Dulu juga kerjaannya jalan-jalan random, seperti cerita di post ini. Tapi saya nggak nyangka dilempar tiket ke Eropa mereka tetep menyambut!

Reine (Nadia yang tengah, Manda yang kanan)

Pas saya sebut Eropa ditambah embel-embel “Norway/ Iceland mau nggak?”, Manda langsung bilang “mau banget Norway!” langsung deh saya pancing buat Februari dan langsung agree untuk Lofoten. Nadia sih gatau Lofoten itu apa (somehow gue rasa dia juga awalnya gatau Norway posisinya di mana). Long story short, malem itu juga mereka langsung issued tiket. Emang tiket murah tuh gabisa kelamaan dianggurin, keburu abis. Makanya issued dulu baru mikir belakangan. Kayak Nadia gini deh kira-kira:


Setelah issued, kami discuss online dan offline mau kemana aja di Norwegia berhubung ada sekitar 7 hari. Lofoten Island udah pasti, tapi 7 hari rasanya kelamaan (hint: 7 hari sangat kurang). Pilihan destinasi lain adalah Tromso, Alta, Senja, dan Abisko di Swedia. Berhubung Manda pengen banget liat aurora, akhirnya kami setuju untuk nggak terlalu rushed dan pilih Tromso aja karena lebih accessible. Selain itu, Tromso merupakan salah satu tempat paling populer untuk lihat northern lights (aurora) berhubung lokasinya yang di pusat aurora belt. Sejujurnya saya juga pengen sih, tapi sama sekali nggak berharap karena biasanya apes kalo urusan cuaca. Liat northern lights/ aurora ini selain lokasi yang bagus, harus cerah cuacanya, dan aktivitas auroranya juga harus tinggi. Saya jauh-jauh ke Rio de Janeiro di Brazil buat liat patung Christ the Redeemer aja ketutupan kabut, gimana aurora… We’ll see.


ITINERARY
Day 1: Jakarta – Paris – Oslo
Saya naik Qatar Airways business class dari Jakarta ke Doha lalu first class dari Doha ke Paris. Kemudian ketemuan sama temen yang sampe di Paris sehari sebelumnya untuk terbang ke Oslo naik Air France.

Sunday, March 11, 2018

Terbang dengan Qatar Airways A380 First Class

Baru inget udah buat post ini setelah landing di Paris bulan lalu tapi nggak sempet di publish karena batrenya habis dan nggak nemu colokan waktu itu. So, please enjoy my story about my first time in first class (ditambah bumbu-bumbu norak berhubung baru banget landing)!

* * *

Hello from Paris!

Barusan saya tiba di Paris dalam rangka liburan ke Eropa selama seminggu ke depan. Sesuai judulnya, kali ini saya gegayaan karena naik First Class-nya Qatar Airways dari Doha ke Paris. Dulu mana pernah ngebayangin bisa naik first class, naik ekonomi aja nunguin promo :)) Makanya tadi di pesawat kerjaannya cengar-cengir aja sambil berguman sendirian, bahkan di dalem kamar mandinya yang luas.

Qatar Airways A380 First Class - Seat 2A

Qatar Airways A380 First Class - Lavatory

Setelah miles terkumpul dari hasil terbang sejak Mei 2016 sampai September 2017 (yang semuanya tiket ekonomi), saya bisa redeem miles tersebut untuk terbang sekali jalan dari Jakarta ke Eropa dengan naik first class-nya Qatar Airways. “True” first class-nya Qatar Airways cuma ada di pesawat jenis A380 yang terbang ke rute London, Paris, Bangkok, Sydney, Melbourne, dan Guangzhou. Kenapa saya bilang “true”? Karena penerbangan ke kawasan Gulf (Oman, Jordan, dll) dari Doha juga dikategorikan ke first class, padahal sebenernya business class.

Pilihan saya cuma Paris berhubung nggak mau bikin visa lagi dan kalau pilih dari/ ke Sydney/ Melbourne, nomboknya kebanyakan (berhubung tiketnya sekali jalan aja). Detail-nya saya share terpisah ya sekalian gabung dengan perks menjadi elite member suatu maskapai. Btw penerbangan Jakarta ke Doha berhubung nggak ada first class jadi saya duduk di business class.

Terbang dengan kelas tertinggi-nya Qatar Airways dari Doha itu berasa spesial banget. Di bandara, ada pintu masuk ke area check-in khusus untuk penumpang first dan business class. Untuk area check-in business class walaupun khusus tapi tetep berdiri (#FirstWorldProblem), sementara first class check-in nya duduk. Untuk bagasi, penumpang first class mendapatkan jatah 50kg (tambah 15kg untuk saya karena Gold member programnya Qatar).

Al Safwa First Class Check-in Area