Tuesday, January 9, 2018

Terbang ke Amerika dan Eropa dengan Qatar Airways Mulai Rp5 Jutaan PP!

Quick Update 2: per 10 Januari jam 20.00 WIB sepertinya kode kupon udah nggak bisa menghasilkan diskon, malah harganya jadi naik s.d. 3x lipat! Semoga ini hanya sementara kayak kemarin sore… Aamiin.

* * *

Quick Update 1: nemu kombinasi rute yang lebih murah ternyata, jadi judul postnya ikut berubah :D Terima kasih buat Anonymous yang share rute seharga Rp5.3 juta.

* * *

Sama seperti tahun sebelumnya, Qatar Airways kembali menggelar promo tiket pesawat secara global, alias tersedia di semua rutenya.


Kalau lihat di halaman promonya, promo berlangsung mulai hari ini (9 Januari) hingga 16 Januari 2018. Periode terbangnya hingga 10 Desember 2018, dengan black-out date (harga promo tidak tersedia) 9 Juni - 10 September 2018.

Judul dari mereka sih "Diskon hingga 35%", tapi kalau saya bandingin di rute yang sama beberapa hari lalu masih sama aja harganya. Eh tapi ternyata ada triknya supaya dapet diskon s.d. Rp2 juta! Beberapa rute (well actually cuma 2 sih berhubung saya mesti ngantor haha) yang saya cek harganya dari Rp8.7 juta jadi Rp6.7 juta aja. Lumayan banget!

Sebelum lihat harga promonya, ada baikya cek tulisan saya yang ini untuk mengetahui cara memesan tiket multi-city di web Qatar AirwaysCara Pesan Multi-City (penjelasan ada di bagian bawah)

Berikut harga "normal". Jakarta - Amsterdam lalu pulang Copenhagen - Singapore Rp8.72 juta.

Harga ada di kanan bawah (bisa klik untuk perbesar gambar)

Kalau ini Jakarta - New York lalu pulang Los Angeles - Singapore Rp8.67 juta. Well, lebih murah ke US ternyata.

Harga ada di kanan bawah (bisa klik untuk perbesar gambar)

Terus gimana biar dapet diskon s.d. Rp2 juta?
Blogger Tricks

Sunday, January 7, 2018

Liburan di Bangkok Bersama Ayah dan Mama

Berbekal 2 tiket pesawat gratisan, saya ngajak Ayah untuk liburan di Bangkok. Gantian gitu sama Mama berhubung sebelumnya udah jalan-jalan ke Hong Kong. Tapi begitu Mama tau, dia mau ikutan juga. Untung aja harga untuk penerbangan yang sama masih manusiawi, jadi langsung beli supaya bisa barengan terbang bertiga. Adek nggak ikut karena lagi kuliah di Surabaya.

Reclining Buddha, Wat Pho, Bangkok

Ngomong-ngomong tentang adek saya, minggu depan dia akan liburan ke UK & Eropa terus buka PO (pre-order) untuk jastip (jasa titip). Berhubung waktu liburannya terbatas, jadi yang dia buka PO cuma tumbler Starbucks aja. Untuk yang tertarik bisa langsung kontak dia lewat Line (permadirf) atau WhatsApp (+62-812-2628-2327), atau bisa comment di sini juga sih nanti dia bales. Harga tumbler Starbucks-nya make sense sih, nggak di rentang Rp300 ribu - Rp450ribu kayak orang biasanya yang harganya suka bikin istighfar :))

Anyway, mari lanjut cerita liburan di Bangkok!

Hari 1: Jakarta – Singapore – Bangkok
Ini pertama kalinya saya ambil flight internasional jam 5 pagi dari Soekarno-Hatta. Karena takut bablas, kita berangkat jam 2 pagi dari rumah. Ternyata lancar banget jalanan (menurut lo..) alhasil nggak sampe 1 jam udah sampai di bandara. Berhubung ini flight internasional, biasanya kan check-in buka 3 jam sebelumnya ya. Tapi kayaknya petugasnya belom pada bangun, jadi baru buka sekitar 2 jam sebelumnya, yakni jam setengah 4.

Hari ini untuk pertama kalinya saya naik Singapore Airlines. Udah penasaran pengen coba sendiri karena review-nya yang bagus banget dari orang-orang bahkan di kelas ekonomi. Tapi ternyata biasa aja tuh dan agak di bawah ekspektasi. Mungkin karena rute saya cenderung pendek (Jakarta – Singapore dan Singapore – Bangkok PP) sehingga mereka juga nggak all-out. Review lebih detail terpisah ya.

Singapore Airlines Refurbished Economy Seat B777-200ER

Sunday, December 31, 2017

2017: Year in Review

Udah di penghujung tahun nih, berarti saatnya untuk melakukan review apa yang terjadi selama 1 tahun ini. Setidaknya ada 3 highlight tahun ini, masing-masing yang berhubungan dengan travel, karir, dan kehidupan. Mari bahas satu per satu.

Di tahun 2017, saya menyelesaikan travel bucket list terbesar saya, yakni mengunjungi New 7 Wonders of the World. Sejujurnya ini nggak pernah masuk bucket list resmi saya karena nggak mau berharap terlalu tinggi berhubung 3 dari 7 Wonders terletak di Amerika Selatan. Tapi ternyata saya bisa mengunjungi ketiganya dalam rentang waktu 12 bulan (2 di Mei 2016 dan 1 di Maret 2017). Alhamdulillah!


Dalam perjalanan yang sama ke Mexico untuk mendatangi Chichen Itza sebagai keajaiban dunia terakhir, saya juga mengunjungi Australia — benua ke enam yang saya kunjungi. Kenapa ambisius banget mengujungi Sydney dan Mexico di satu waktu padahal waktu liburannya cuma 2 minggu? I'll share the details shortly, tapi saya awalnya bertekad untuk menjadikan liburan tersebut terakhir di tahun 2017. Makanya saya bener-bener hamburin uang buat tiket pesawat, penghabisan gitu ceritanya. Eh ternyata abis itu tetep aja tergoda buat liburan dan ada masih keluyuran di bulan berikutnya :((

Berikut summary liburan saya di tahun 2017:

Wednesday, December 27, 2017

Birthday Trip 2017: New Airlines and Autumn in Japan

Setelah menyadari bahwa beberapa hari setelah saya berulang tahun ada long weekend (lagi), saya menyusun rencana mau liburan ke mana. Well, bukan liburan ke mana sih, tapi sama kayak tahun lalu, lebih ke liburan dengan maskapai apa. Saya udah 2 – 3 tahun belakangan ini pengen banget naik Cathay Pacific, terutama setelah sering baca One Mile at a Time yang suka banget dengan First Class-nya. Walaupun saya nggak belum bisa naik First Class, tapi tetep penasaran pengen coba. Udah gitu berhubung saya sebagai Sapphire member-nya oneworld, naik Cathay Pacific dapet benefit tambahan seperti lounge access (paling penting) dan benefit kecil lain kayak pilih kursi walaupun beli tiket ekonomi termurah, additional baggage (yang gak pernah kepake), priority lounge, priority check-in line, dan priority baggage handling.


Begitu tekad sudah bulat untuk naik Cathay Pacific, tahap berikutnya adalah menentukan tujuan. Dengan harga tiket Rp3 juta PP, kalo ke Hong Kong aja kayaknya kurang puas berhubung jadinya cuma 2x naik Cathay-nya. Udah gitu harganya nggak beda jauh kalo hanya menjadikan Hong Kong sebagai transit point sebelum ke negara di Asia Timur kayak Taiwan (Rp4 juta), China (Rp4.8 juta), Korea (Rp5 juta), dan Jepang (Rp5 juta). Keempat negaranya udah pernah saya kunjungin sebelumnya, jadi sama aja sebenernya semuanya.

Korea langsung saya coret berhubung pengurusan visanya yang super rumit (NPWP, SPT –  ugh!). China.. yah masa China lagi padahal ulang tahun sebelumnya baru aja dari Beijing dan harus keluar uang buat bikin visa. Taiwan udah nggak perlu bikin visa berhubung punya visa Schengen yang multiple dan masih aktif, tapi terlalu deket dari Hong Kong. Yang paling make sense berarti cuma Jepang: udah jaraknya paling jauh dari Hong Kong, saya juga bisa apply visa waiver karena punya paspor elektronik. Untuk menentukan kota tujuan di Jepang, saya langsung pilih yang agak di utara: Tokyo atau Sapporo. Fukuoka, Osaka, dan Nagoya dicoret karena lebih di selatan posisinya. Sebenernya pengen banget ke Sapporo berhubung belum pernah, tapi dengan memilih Tokyo saya bisa naik Japan Airlines dengan di rute Tokyo – Hong Kong. No brainer sih, another oneworld carrier yang pengen saya cobain. Tokyo it is!

Maple leaves in autumn colors

Oh ya, berhubung birthday trip ini lagi-lagi fokus ke dunia aviasi dibanding tujuannya, saya pilih yang waktu transit di Hong Kong-nya se lama mungkin pas berangkat. Walaupun saya bisa transit kurang dari 2 jam, saya pilih yang transit 9 jam! Durasi transitnya lebih lama dari flight Jakarta – Hong Kong yang 4.5 jam ditambah Hong Kong – Tokyo yang 3.5 jam :)) Kenapa bela-belain transit lama? Karena Hong Kong International Airport ini salah satu major hub-nya Cathay Pacific dan oneworld, jadi banyak lounge kece yang bisa saya datengin sebagai oneworld Sapphire member. Biar nggak penasaran gitu nanti-nantinya :D

Tuesday, December 12, 2017

Birthday Trip 2016: Business Class to Beijing

Di pertengahan tahun 2016, adek saya udah kepengen banget buat jalan-jalan ke Beijing supaya bisa ke Great Wall. Dia bilang mau ikutan kayak saya mengunjungi ketujuh keajaiban dunia (mari kita doakan semoga terwujud). Setelah keseringan naik AirAsia dan temen-temennya, dia bertekad untuk ke Beijing dengan pesawat yang bagusan. Setelah browsing sana-sini, nominasinya adalah Cathay Pacific yang berangkat dari Kuala Lumpur (dan transit di Hong Kong). Total harga jadinya sekitar Rp5 juta, sudah termasuk tiket PP Jakarta – KL.

Namun di suatu hari di bulan Juli, saya menemukan info tiket business class Malaysia Airlines yang miring banget. Pulang pergi ke Beijing harganya cuma Rp3.5 juta!! Walaupun awalnya bingung karena uangnya ngepas, tapi keinginan dia untuk naik business class jauh lebih besar. Jadi setelah saya godain terus-terusan, akhirnya dia beli juga tiketnya. Ayah saya yang tau anaknya mau naik business class, ikutan juga! Issued lah mereka 2 tiket business class Malaysia Airlines dari Bangkok ke Beijing PP via Kuala Lumpur.

Malaysia Airlines A330 New Business Class
Malaysia Airlines A330 New Business Class

Melihat adek dan Ayah saya bakal jalan-jalan naik business class, kok… saya ikutan pengen… Oh noo! Waktu itu saya masih dalam tahap persiapan liburan ke Jordan dan Svalbard yang mahal banget. Awalnya sih udah sok tegar nggak mau beli, tapi begitu baca review business class-nya MalaysiaAirlines yang baru di A330, akhirnya saya pun luluh. Besok paginya saya ikutan issued tiket untuk keberangkatan pas long weekend di bulan Desember, itung-itung kado ulang tahun untuk diri sendiri. FYI, proses beli tiket terjadi pas saya lagi nongkrong di kamar mandi kantor loh :)) Berhubung Malaysia Airlines ini bagian dari oneworld alliance, dengan tiket ini bisa membantu saya untuk mencapai status Gold dengan Qatar Airways Privilege Club. Yay!