Monday, May 9, 2022

Perjalanan ke Antartika: Why and Why Now?

Menurut saya sesuatu dalam hidup akan lebih terarah ketika ada target. Selain itu, target yang selalu bertambah juga bisa menjadi semacam penanda perkembangan diri sendiri. Hal ini termasuk ketika bicara tentang perjalanan, bahkan liburan. Dimulai dari awal saya solo traveling, saya pasti selalu menyiapkan daftar apa saja yang perlu dilihat dalam perjalanan tersebut, walaupun emang makin ke sini makin simpel daftarnya. Awalnya saya bisa bikin itinerary perjalanan sampai ke menit dan disiapkan jauh-jauh hari, namun sekarang saya cukup memiliki daftar mau ke tempat apa aja dan dibuatnya pun kadang ketika sudah tiba di tujuan.

Merenung bersama Gentoo penguin

Target inilah yang membuat perjalanan saya lebih terarah. Saya tau saya harus ke mana, apa yang harus dipersiapkan, dan bahkan kapan ingin target tersebut tercapai. Kalo berdasarkan ilmu pembuatan target, saya menggunkaan kaidah SMART yakni specific, measurable, achievable, relevant, dan timely. Target perjalanan saya awalnya adalah tempat yang harus dikunjungi ketika liburan di Thailand di tahun 2013, lalu “berkembang” menjadi mengunjungi negara-negara Asia Timur, semakin tumbuh menjadi mengujungi tujuh keajaiban dunia versi ala-ala (haha penjelasannya ada di sini), dan target terakhir saya adalah mengunjungi tujuh keajaiban dunia versi resmi.
 
Setelah mengunjungi Chichen Itza di Meksiko, target perjalanan saya bisa dikatakan sudah tidak ada lagi. Sebenarnya ada beberapa hal yang “nice to have”, tapi saya takut menjadikan target untuk sesuatu yang sepertinya tidak realistis atau terlalu jauh/ lama dicapainya. Saya sudah sangat bahagia dengan bisa mengunjungi ketujuh New Wonders of The World pada usia 23 tahun, 2 tahun lebih awal dari target saya. Saya merasa target-target “nice to have” tersebut akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dicapai dan saya tidak nyaman memiliki target yang jangka waktunya terlalu panjang, apalagi untuk sesuatu yang tersier seperti liburan atau perjalanan.

Oleh karena itu perjalanan saya setelah pulang dari Meksiko dapat dikatakan cukup.. random? Berhubung waktu itu visa Schengen saya berlaku sampai 2021, kebanyakan perjalanan saya adalah ke Eropa bahkan suatu weekend di Januari 2018 saya ke Eropa selama 1 malam saja untuk mengantarkan Mama bertemu dengan Ayah dan adik yang sudah berangkat duluan. Kenapa saya nggak ikut liburan? Karena saya nggak bisa cuti berhubung sudah ada rencana ke Eropa lagi (Norwegian Arctic) di bulan berikutnya.
 
Apakah ada yang salah dengan liburan saya sejak 2017 hingga 2021? Tentu saja tidak. Saya tetap bisa menikmati perjalanan dan destinasinya, namun kepuasan yang ada berbeda dibandingkan ketika saya tiba di Madame Tussauds (tempat terakhir yang ingin saya kunjungi di Bangkok), ketika mendarat di Osaka (negara Asia Timur terakhir yang saya kunjungi), ketika melihat Taj Mahal (tujuh keajaiban dunia versi ala-ala terakhir yang saya datangi), serta ketika datang ke Chichen Itza (tujuh keajaiban dunia versi resmi terakhir yang saya kunjungi). Saya kangen dengan rasa tersebut.
 
Sehingga saat saya ingin hidup dengan lebih teratur dan memutuskan membuat detail rencana hidup jangka panjang di awal tahun 2021, saya perlu memasukkan target di aspek. Hal ini karena saya suka traveling dan seperti target lainnya, menyelesaikan target travel itu bisa menghasilkan rasa senang, bahagia, dan puas yang liar biasa.
 
Sebenarnya ada beberapa target travel “nice to have” yang saya miliki, namun dengan konsep SMART yang saya pegang, Antartika adalah target yang paling ideal. Salah satu faktor utamanya adalah berdasarkan apa yang saya baca dari pengalaman dan cerita orang-orang di internet, a trip to Antarctica is a once in a lifetime adventure. Jadi sangat pas untuk memasukan ini sebagai tujuan hidup jangka panjang.
 
Sebagai buktinya, berikut coretan saya untuk menentukan berapa banyak yang harus saya tabung per bulannya untuk perjalanan ke Antartika. Saking berasa “jauh”-nya target ini terutama karena besarnya biaya yang diperlukan, saya sampai bikin 2 versi: perjalanan ketika saya berumur 35 tahun (tahun 2028) serta di tahun 2030. Bismillah dan mulailah saya menabung rutin sejak Januari 2021.

Template sheet yang disensor dulu semua angkanya :))

Proses menabung masih terus rutin dijalankan hingga pada akhirnya ketika saya sedang karantina sepulangnya dari Amerika di bulan Oktober 2021 saya nonton video ini.

 

Sebagai konteks, menurut saya Titi dan Tian serta Nikita dan Indra adalah dua pasangan selebritis Indonesia yang cinta traveling. Bukan hanya untuk gaya-gayaan atau belanja aja, tapi mereka suka travel untuk mendapatkan pengalaman dari perjalanan yang dilakukan. Ini sotoy-nya saya sih, tapi berdasarkan fakta bahwa mereka udah liburan ke destinasi eksotis jauh sebelum Instagram atau YouTube booming. Kalo nggak salah Titi-Tian honeymoon ke Mesir waktu itu, dan Nikita-Indra ini jalan-jalannya ke Chile, Rwanda, dan lainnya yang tidak umum menjadi destinasi liburan orang Indonesia.
 
Video yang awalnya saya tonton sebagai teman makan siang kala itu malah punya impact bagi saya. Di menit ke 7:10 Titi nanya ke Nikita dan Indra tujuan honeymoon-nya. Surprisingly though actually not really, Indra menjawab bahwa mereka merencanakan untuk pergi ke Antartika di bulan November karena di bulan November akan ada full solar eclipse yang terjadi setiap 40 tahun dan suudah pegang tiketnya. Saya bilang surprise karena target hidup saya ternyata sama dengan tujuan honeymoon mereka yang merupakan konglomerat dan bikin mikir apakah saya menghambur-hamburkan uang saja. Sementara itu not surprise-nya adalah karena mereka adalah avid traveler dan sama sekali nggak mengejutkan kalau mereka menjadikan Antartika sebagai destinasi untuk momen spesial. Respon dari Tian pun nggak kalah serunya dan kelihatannya sangat genuine.
 
Selesai nonton video tersebut, saya langsung googling tentang Antarctica cruises. Sebenernya ketika memasukkan Antartika sebagai salah satu tujuan hidup saya udah punya rencana kasar mau cruise yang seperti apa, tapi karena masih jauh waktunya dan sangat overwhelming (terutama harganya haha) jadi saya nggak banyak cari tau dulu. Fokus nabung dulu aja.
 
Hari itu ketika googling lagi entah kenapa saya menemukan cruise dengan harga yang spesial. Bukan jenis cruise yang saya mau, tapi harganya sangat menggoda dengan fasilitas yang menurut saya sangat baik. Akhirnya saya memberanikan diri untuk menghubungi operatornya untuk mengecek apakah harga masih tersedia atau tidak dan mendapatkan informasi lebih lanjut tentang perjalanannya.
 
Setelah kirim email, saya tersadarkan bahwa sudah seharusnya saya memberikan prioritas atas pengeluaran liburan saya ke Antartika, bukan perjalanan lainnya. Terlebih ketika perjalanan yang dilakukan menghabiskan dana yang tidak sedikit. Saya jadi mikir buat apa ke Amerika 2x di waktu yang berdekatan ketika uangnya bisa digunakan untuk perjalanan ke Antartika. Again, saya tetap bahagia ketika melakukan perjalanan tersebut apalagi setelah 1,5 tahun nggak kemana-mana, tapi kebahagian saya pasti akan jauh lebih besar ketika mengunjungi Antartika dalam waktu yang lebih cepat. 

US Open 2021 Quarter Final - Novak Djokovic vs Matteo Berrettini

Belum lagi ditambah faktor personal yang cukup penting, yakni jika di umur 35 tahun atau tahun 2030 sudah memiliki prioritas lain (misal: keluarga), apakah masih bisa dan ikhlas mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk keperluan tersier walaupun dananya sudah dialokasikan sejak awal?
 
Faktor eksternal pendukung adalah kala itu Argentina juga sudah berencana untuk membuka perbatasannya tanpa karantina mulai 1 November 2021 dan berdasarkan salah satu thread di forum TripAdvisor, pada pertengahan Oktober kapal-kapal pesiar mulai bergerak menuju Ushuaia memberikan tanda positif bahwa cruise akan kembali dimulai setelah pandemi.
 
Setelah kirim email ke operator, saya langsung buka sheet Antartika dan bikin versi ketiga yakni jika saya berangkat di awal tahun 2022. Kalo menggunakan formula yang sama dan berharap dari fresh money tentu saja nggak akan cukup. Namun setelah cek kondisi keungan secara keseluruhan termasuk simulasi yang akan terjadi dalam beberapa bulan mendatang sebelum berangkat, perjalanan tersebut mungkin dilakukan tanpa mengganggu rencana keuangan untuk tujuan hidup lain. Alhamdulillah!
 
Keesokan harinya karantina selesai dan di perjalanan pulang saya mendapatkan balasan email dari operator yang mengabarkan bahwa harga spesial yang saya temukan sudah tidak tersedia dan diberikan opsi lain. Jeger!
 
Berhubung mindset-nya udah terlanjur nyangkut ke Antartika, bukannya saya balas “thank you next time”, saya malah hitung ulang setibanya di rumah. Hasilnya pada malam harinya saya mengirim email balasan ke operator untuk melakukan memesan spot. Whoa!


Email balasan selanjutnya dari operator cukup bikin shock karena untuk booking spot perlu deposit sebesar 10% dari harga cruise dan sisanya harus dilunasi 90 hari sebelum keberangkatan. Ketika dihitung, 90 hari sebelum keberangkatan itu adalah tanggal 10 November dan hari itu adalah tanggal 26 Oktober. Saya ternyata cuma punya sekitar 2 minggu untuk melunasi pembayaran. Wow!


Karena langkahnya sudah semakin dekat menuju Antartika, mundur menjadi semakin sulit. Akhirnya saya menyanggupi dan membuat skema pembayaran beberapa kali berhubung limit kartu kredit saya kecil. Bismillah!
 
Tanggal 4 November saya melakukan pembayaran terakhir dan betapa lega dan bahagia karena Antartika sudah di depan mata. Ada 1 kasur di kapal pesiar menuju Antartika atas nama saya! Bulan November 2021 sangat mengesankan buat saya. Seperti yang saya tulis di sini, saya menyelesaikan dua cicilan besar yakni apartemen dan cruise ke Antartika. Dan saya masih bisa makan!!! Alhamdulillah!

 
Target membuat hidup saya semakin terarah dan ketika berada di jalan untuk mencapai target tersebut, rasa bahagia dan puas akan berkali-kali lipat dibandingkan ketika melakukan hal lain. Walaupun perjalanan ke Antartika masih panjang karena belum ada yang disiapin selain cruise, saya udah ngerasa senang banget dan menyiapkan sisanya menjadi semakin menyenangkan.
 
Here I am, writing this lengthy self-reflection post on why I chose Antarctica and ended up pulling the trigger to visit it way earlier than planned. I’m so very glad I did it.

Serenity

2 comments:

  1. bacanya aja ikut seneng, apalagi kamu sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yep. ini nulis post-nya aja berasa mengulang proses planning-nya terus seneng :))

      Delete