Monday, March 26, 2018

Jalan-Jalan di Tromso dan Lofoten Islands, Norwegia

Morning in Lofoten Islands

MENGAPA NORWEGIA?
Duh, harus ditanya ya setelah liat foto di atas? Kidding :p

Di bulan Agustus tahun lalu ketika Qatar kasih promo sekitar Rp5 juta untuk PP ke Eropa, saya iseng ngelempar info ke beberapa temen SMP, temen SMA, dan temen kosan saya. Ketiganya sama-sama heboh, tapi 2 hanya jadi wacana. Temen SMA saya yang nggak lama sebelumnya ketemuan buka puasa dan berakhir dengan kalimat “jalan-jalan bareng yuk!” langsung impulsif dan beli tiketnya. Temen SMA saya ini emang paling bisa diandalkan kalau jalan-jalan random. Dulu juga kerjaannya jalan-jalan random, seperti cerita di post ini. Tapi saya nggak nyangka dilempar tiket ke Eropa mereka tetep menyambut!

Reine (Nadia yang tengah, Manda yang kanan)

Pas saya sebut Eropa ditambah embel-embel “Norway/ Iceland mau nggak?”, Manda langsung bilang “mau banget Norway!” langsung deh saya pancing buat Februari dan langsung agree untuk Lofoten. Nadia sih gatau Lofoten itu apa (somehow gue rasa dia juga awalnya gatau Norway posisinya di mana). Long story short, malem itu juga mereka langsung issued tiket. Emang tiket murah tuh gabisa kelamaan dianggurin, keburu abis. Makanya issued dulu baru mikir belakangan. Kayak Nadia gini deh kira-kira:


Setelah issued, kami discuss online dan offline mau kemana aja di Norwegia berhubung ada sekitar 7 hari. Lofoten Island udah pasti, tapi 7 hari rasanya kelamaan (hint: 7 hari sangat kurang). Pilihan destinasi lain adalah Tromso, Alta, Senja, dan Abisko di Swedia. Berhubung Manda pengen banget liat aurora, akhirnya kami setuju untuk nggak terlalu rushed dan pilih Tromso aja karena lebih accessible. Selain itu, Tromso merupakan salah satu tempat paling populer untuk lihat northern lights (aurora) berhubung lokasinya yang di pusat aurora belt. Sejujurnya saya juga pengen sih, tapi sama sekali nggak berharap karena biasanya apes kalo urusan cuaca. Liat northern lights/ aurora ini selain lokasi yang bagus, harus cerah cuacanya, dan aktivitas auroranya juga harus tinggi. Saya jauh-jauh ke Rio de Janeiro di Brazil buat liat patung Christ the Redeemer aja ketutupan kabut, gimana aurora… We’ll see.


ITINERARY
Day 1: Jakarta – Paris – Oslo
Saya naik Qatar Airways business class dari Jakarta ke Doha lalu first class dari Doha ke Paris. Kemudian ketemuan sama temen yang sampe di Paris sehari sebelumnya untuk terbang ke Oslo naik Air France.

Day 2: Oslo – Tromso
Pagi hari naik Norwegian dari Oslo ke Tromso. Ini adalah kunjungan kedua saya ke Arctic Circle setelah sebelumnya ke Longyearbyen, Svalbard. Hari ini agendanya naik cable car untuk lihat Tromso dari atas.

Tromso

Day 3: Tromso
Hari ini ke Ersfjordbotn, salah satu fjord cantik di luar kota Tromso. Malamnya ikutan aurora chasing tour.

Day 4: Tromso – Harstad/Narvik – Kabelvag
Pagi hari ke Arctic Cathedral sebelum terbang ke Harstad/Narvik. Road trip di Lofoten Island dimulai! Tujuan pertama adalah Kabelvag.

Arctic Cathedral, Tromso

Day 5: Kabelvag – Nusfjord
Hari kedua tujuannya Henningsvaer, Stamsund, dan Nusfjord.

Stamsund Rorbuer

Day 6: Nusfjord – Hamnoy
Hari ketiga tujuannya Ramberg, Sakrisoy, Reine, A, dan Hamnoy.

House at Ramberg Beach

Day 7: Hamnoy – Evenskjer
Pagi hari malas-malasan di penginapan sebelum perjalanan 6 jam dari Hamnoy ke Evenskjer (stop di Svolvaer buat istirahat).

Day 8: Evenskjer – Harstad/Narvik – Stockholm – Jakarta
Pulang ke Jakarta lewat Harstad/Narvik, Stockholm, Doha, dan Jakarta. Panjang!

View from Airbnb in Evenskjer

Flight Map

PENGELUARAN
Pengeluaran saya selama liburan di Norwegia sekitar Rp26 juta di luar biaya oleh-oleh. Ringkasannya sebagai berikut:


CategoryAmount (IDR)Share
Accommodation5,071,91720%
Attraction2,951,50011%
Meal806,1673%
Transportation16,777,41765%
Others237,3331%
TOTAL25,844,333
Catatan: biaya di luar visa Schengen (Rp1.2juta), asuransi (Rp500ribu), dan oleh-oleh.

Seperti biasa, transportasi jadi komponen termahal di liburan. Makanan bisa diteken banyak karena masak sendiri (penjelasan lanjut di bawah). Detail lengkap pengeluaran dan itinerary bisa dilihat di Google Sheet berikut.

VISA
Untuk berkunjung ke Norwegia, pemegang paspor Indonesia memerlukan visa Schengen. Saya nggak perlu buat visa lagi berhubung masihberlaku sampai April 2021. Berhubung paling lama tinggal di Norwegia, maka teman saya membuat visa Schengen ke kedutaan Norwegia yang diurus melalui VFS Global. Waktu prosesnya 15 hari kerja dan ternyata Norwegia ini pelit sekali! Kedua temen saya yang mengurus secara terpisah sama-sama dikasih visa yang aktif di tanggal yang sesuai dengan tiket yang dilampirkan, durasi yang sama persis dengan durasi di tiket, dan single entry! Saya kurang rekomendasikan deh urus visa Schengen lewat Norwegia.

Saya rekomendasikan untuk urus visa Schengen lewat kedutaan Belanda. Buat gambaran, bisa baca tulisan saya yang ini. Sekarang ngurus visa Schengen Belanda udah lewat VFS. Jadi beberapa cara di tulisan tersebut udah nggak berlaku, tapi dokumen yang dibutuhkan masih sama.

UANG
Norwegia punya mata uang sendiri, yakni Norwegian Krone (NOK) yang di bulan Februari 2018 rate-nya adalah Rp1.750 untuk 1 NOK. Menurut saya nggak perlu bawa NOK dari Indonesia kalo susah ditemukan, lebih baik bawa Euro aja yang lebih gampang diperoleh baru nanti tuker di sana. Saya sendiri cuma bawa sedikit Euro buat jaga-jaga dan lebih pilih tarik tunai di ATM karena praktis.

Norwegia sendiri sudah sangat cashless. Liburan pertama saya, saya tidak mengeluarkan cash di Norwegia. Liburan kali ini pun mirip, sekalinya kami diharuskan pakai cash adalah saat bayar penginapan semacem Airbnb di Kabelvag (ini karena yang punya perorangan gitu, buat apa juga punya mesin kartu kredit/ EDC).

AKOMODASI
Akomodasi di Tromso kami pilih Airbnb supaya bisa masak. Setelah cari-cari, akhirnya dapet whole apartment di daerah Tomasjordnes. Lokasinya bukan di city center karena nggak nemu Airbnb yang cocok dan masuk budget (syarat: whole apartment dengan 2 bedrooms). Airbnb yang dipilih sebenernya sedikit melebihi budget, tapi karena liat gambar dan deskripsi yang oke banget, akhirnya diikhlaskan. Ternyata worth banget! Airbnb-nya bisa diliat di halaman ini. Btw kalo belum punya Airbnb bisa daftar lewat sini untuk dapetin diskon 33 USD (~ Rp450.000). Begitu kalian dapet diskon, saya dapet separonya loh. Indahnya berbagi :))

Airbnb in Tromso

Sementara itu di Lofoten nggak semua akomodasi kami berupa Airbnb berhubung pilihannya terbatas di lokasi yang kami mau. Malam pertama di Kabelvag kami nginep di semacem Airbnb (whole apartment) tapi booking dari Booking.com. Walaupun kamarnya cuma 1 dan saya tidur di sofa bed, tapi harganya sangat affordable jadi nggak apa-apa. Kalau mau lihat apartment-nya lebih detail, bisa buka halaman ini.

Penginapan di Nusfjord kami memilih rorbu bernama Nusfjord Rorbuer. Rorbu ini semacem fishing village (sok inggris banget berhubung kalo nyebut kampung nelayan berasa di Pantura…). Harganya mahal sejujurnya, tapi waktu itu udah pada males nyari dan tempatnya cantik. Jadi dinikmati saja dan lagi-lagi harga mencerminkan kualitas! Detail Nusfjord Rorbuer bisa dilihat di sini. Oh ya, sama kayak Airbnb tadi, kalau kalian belum pernah transaksi di Booking.com, bisa loh transaksi lewat halaman ini terus dapet diskon 10% di transaksi pertama. Begitu kalian selesai nginep, saya kebagian 15 USD. Indahnya berbagi (lagi) :D

Nusfjord Rorbuer

Malam ketiga kami menginap di tempat yang paling saya tunggu-tunggu: Eliassen Rorbuer di Hamnoy. Saya sama sekali nggak tau tempat ini sebelumnya, tapi pas baca cerita orang yang ke Lofoten dan nginep di tempat ini, langsung pengen banget berhubung tempatnya sangat fotogenik dan menggambarkan Lofoten Island banget, makanya beberapa kali saya liat muncul di cover buku travel guide Lofoten — contohnya kayak foto pertama di tulisan ini. Kalau mau nginep di sini saran saya harus pesen lebih jauh-jauh hari karena popular banget. Pilihan tanggal saya waktu itu cuma 2 dan 1 tanggal udah nggak ada kabin yang tersedia. Sementara tanggal 1 lagi tinggal sisa kabin paling mahal (tipe deluxe waterfront). Yaudah deh ambil aja daripada nggak jadi nginep di sana.

Eliassen Rorbuer Cabins

Malam terakhir di Lofoten kami cari Airbnb deket airport Harstad/Narvik berhubung ada penerbangan pagi dan memilih di daerah Evenskjer. Airbnb-nya bisa dilihat di halaman ini. Nggak sebagus Airbnb di Tromso atau Eliassen Rorbuer, tapi cukup buat istirahat singkat.

TRANSPORTASI
Kami jalan-jalan di Tromso menggunakan kendaraan umum, campuran antara bis dengan taksi. Sebenernya bisa sepenuhnya naik bis jadi hemat banget berhubung mereka punya daypass seharga 100 NOK (~Rp180.000) yang bisa dipake untuk naik bis sepuasnya selama 24 jam di daerah Tromso. Beli tiketnya bisa di bis atau di beberapa halte yang ada mesinnya (nggak semua halte ada). Kalo beli di bis yang jelas ya ngomong ke supirnya, kalo perlu tunjukin tulisan/ gambar dalam bahasa Norwegia berhubung percobaan pertama kami gagal dan berakhir dikasih tiket yang berlaku 1 jam doang seharga 50 NOK.

Untuk transportasi dari/ ke airport, ada bis juga yang harganya 120 NOK (~Rp216.000) pulang pergi. Tapi berhubung koper kami gede-gede dan lokasi Airbnb yang jauh dari tengah kota, kami milih untuk naik taksi. Naik taksi di Tromso ini deg-degan karena hampir tiap detik nambah 1 NOK (~Rp1.800) hahaha lebay. Tapi beneran mahal loh, dari airport ke Airbnb dengan jarak 10 km dan waktu tempuh kurang dari 15 menit, biayanya 319 NOK (~Rp575.000). Pulangnya sedikit lebih murah karena di hari Rabu, berhubung mereka punya tarif yang beda untuk hari kerja, hari Sabtu, dan hari Minggu atau libur.

Kami 4 kali naik taksi di Tromso: dari dan ke airport, dari Fjellheisen ke Airbnb dan dari Ersfjordbotn ke terminal bis Eidkjones. Dua perjalanan naik taksi terakhir karena udah kedinginan banget dan nggak sanggup nunggu bis haha. Berapa total biaya keempatnya? Sekitar 2 juta rupiah :)

Ersfjordbotn, Tromso

Saya sempet hitung untuk sewa mobil di Tromso, tapi harganya jauh lebih mahal kalo hanya 3 hari 2 malem, berhubung kami nggak banyak aktivitas di Tromso. Beda cerita kalo kalian punya rencana untuk ke beberapa tempat di sekitar Tromso kayak Ersfjordbotn, Lyngen Alps, Skibotn, sampai Alta, sewa mobil lebih menguntungkan sepertinya.

Sementara itu untuk di Lofoten kami sewa mobil supaya puas dan bisa mengatur waktu dengan baik selama road trip. Di Lofoten ada bis, tapi jadwalnya jarang dan susah jika mau berhenti di banyak tempat. Kami rental mobil di Avis dan pilih mobil dengan transmisi automatic, oleh karena itu harganya lebih mahal. Kami dapetnya Toyota Auris. Untuk 4 hari, kami bayar sekitar 7 juta (all-in, termasuk biaya pengemudi di bawah umur berhubung kami belum ada yang 25 tahun, 1 orang additional driver, dan asuransi lain yang belum tercover di paket awal kayak excess damage). Kami nggak sewa GPS berhubung setelah dihitung-hitung lebih murah jika beli SIM card yang bisa dipake selama di Eropa (saya jelasin di bawah).

Toyota Auris dari Avis untuk road trip di Lofoten Islands, Norwegia

Untuk bensin, menurut saya mobilnya irit banget. 100 km cuma kepake 6 liter (ada infonya di mobil loh! Norak ya maapin haha). Oleh karena itu untuk 4 hari perjalanan dengan jarak sekitar 650km kami hanya isi bensin 3x dengan total 550 NOK (~Rp1.000.000). FYI harga bensin di Lofoten berkisar 15-16 NOK per liter (~Rp26.000 - Rp28.000), makin ke selatan makin mahal harganya.

Mobil di Norwegia setirnya ada di sebelah kiri mobil dan mengendarai di sebelah kanan jalan. Nyetir di salju tipis nggak begitu licin karena ban-nya udah ada gerigi (studded tyre istilahnya). Jalan utama di Lofoten (E10) mulus banget dan lebar. Waktu itu sepi juga, jadi sering sendirian di jalan. Paling cuma pas masuk ke kota kayak Svolvaer dan Leknes baru lebih rame.

Road trip view di Lofoten Island

PENERBANGAN
Mumpung abis ngomongin transportasi, saya mau kasih tips tentang penerbangan di Norwegia kalau kamu mau ke Tromso atau Lofoten. Untuk Tromso nggak usah pusing sih berhubung banyak penerbangan dari Oslo. Lofoten nih yang agak rumit.

Di Pulau Lofoten ada 3 airport. Urutan dari yang atas ke bawah: Svolvaer, Stokmarknes (tapi agak di luar jalur utama E10), dan Leknes. Saran saya kalian beli tiket pesawat yang masuk dan keluar dari lokasi yang sama. Kenapa? Karena kalau sewa mobil terus lokasi pick-up dan drop-off-nya beda, biayanya mahal banget. Waktu itu saya cek sekitar 3 juta kalo nggak salah. Oleh itu saya rekomendasiin untuk pilih Svolvaer atau Leknes sebagai start dan end point perjalanan kamu di Lofoten.

Lokasi airport di Lofoten Islands

Terus kenapa saya mulai dan mengakhiri perjalanan di Evenes Airport yang terletak di daerah Harstad/Narvik, 160 km (2.5 jam perjalanan) dari Svolvaer? Karena tiket pesawat keluar Lofoten paling murah dari sana. Mungkin kalo saya beli tiketnya lebih awal bisa mulai dan berakhir di Svolvaer.

Pesawat Bombardier milik Wideroe

MAKANAN
Inilah kunci dari segala kunci yang bikin liburan ke Norwegia nggak semahal perkiraan awal: masak sendiri. Serius deh, makan di Norway itu mahal banget. Pertama kali ke Norway saya dari Jordan yang sama-sama mahal jadi nggak berasa pas ngeluarin Rp20.000 untuk 1 buah pisang. Tapi kemaren berhubung dari Jakarta, jadi kaget deh liat mahalnya makanan.

Kami sebenernya anggarin 30 EUR per hari per orang yang berarti sekitar Rp11juta untuk 3 orang selama di sana. Dengan hampir selalu masak sendiri, pengeluaran untuk makan bertiga hanya 1,142 NOK (~Rp2.100.000)! Ini pun sebenernya bisa cuma 650 NOK (~Rp1.200.000) aja, tapi karena kami kedinginan abis dari Ersfjordbotn dan mesti persiapan sebelum aurora chase tour jadi mampir ke restoran pizza dan abis 490 NOK (~Rp900.000)

Pizza mahal

Dari Indonesia kami bawa beras + rice cooker, indomie, dendeng kering, abon, teri, dan bumbu-bumbu. Di Norwegia beli telur (6 butir = 30 NOK), susu (1 karton = 19 NOK), ayam, salmon, sosis, roti (1 fresh loaf = 20 NOK), dan sebagainya. Salmon murah banget btw, 200 gram cuma 30 NOK (~Rp54.000).

Beberapa stok makanan dari Indonesia

Norwegian salmon and pasta

PAKET INTERNET
Untuk koneksi selama di Eropa, kami memutuskan untuk beli SIM card. Setelah banding-bandingin, kami beli SIM card dari Orange yang tourist package berhubung landing di Paris. Harganya 40 EUR (~Rp680.000) dan dapet paket internet sekitar 10 GB untuk 4G data ditambah credit untuk telepon dan SMS. SIM card berlaku 14 hari kata temen saya (sorry nggak ngecek juga berhubung kami cuma 8 hari di Eropa). 10 GB kebanyakan sih ternyata berhubung akhirnya kami cuma pakai sekitar 3 GB, mostly untuk Google Maps, browsing, dan setel lagu pake Spotify.

Awalnya mau beli SIM card international dari Traveloka (pemasoknya Java SIM kayaknya), tapi nggak ada credit buat telepon. Soalnya takut butuh buat nelpon taksi atau Airbnb.

WISATA
Kami hanya bayar 2 aktivitas wisata, yakni untuk naik cable car (Fjellheisen) dan ikutan aurora chasing tour yang keduanya di Tromso.

Fjellheisen view

Waktu udah sampe Tromso kami bingung mau kemana aja, akhirnya naik cable car deh dengan harga 190 NOK (~Rp340.000) per orang untuk pulang pergi. Agak mahal tapi worth banget berhubung view-nya cantik. Saran saya naik pas sore terus stay sampe agak gelap untuk dapet view kota Tromso dari atas versi terang dan gelap. Selain itu Fjellheisen ini ternyata salah satu spot di dalam kota Tromso yang direkomendasikan untuk lihat aurora. Waktu itu kami beruntung bisa lihat aurora dari sini. Seneng banget malem pertama di Tromso langsung liat aurora, walaupun nggak begitu kuat intensitasnya.

Aurora seen from Fjellheisen

Berhubung beberapa minggu sebelum berangkat saya liat di Instagram kalo Tromso cerah dan hampir setiap malam ada aktivitas aurora, jadilah saya cari travel agent yang oke dan affordable. Pada dasarnya ada 2 jenis tour, yakni yang pakai bis dan minivan. Untuk harga, yang bis berkisar 900 NOK (~Rp1.6juta) dan minivan/ private chase harganya 1,350 – 1,600 NOK (~Rp2.3-2.9 juta). Saya pilih yang minivan supaya kalo cuaca buruk bisa jalan lebih jauh (katanya bisa jalan sampe Finlandia loh!). Agent-nya sendiri saya pilih Marianne’s Heaven onEarth Aurora Chaser Tours berhubung duluuuu banget pernah baca review dia dan katanya oke banget. Ternyata harganya paling murah juga dibanding travel agents lain yang populer di TripAdvisor. Malem itu cerah banget jadi liat banyak aurora!

Northern lights just outside Tromso

Awalnya sama sekali nggak mau keluar uang buat aurora tour karena di Tromso nggak ada agent yang punya program guaranteed liat aurora. FYI kalo di Iceland agent-nya punya garansi yang artinya kalo kamu udah ikut tour tapi gak liat aurora, bisa ikut tour di hari selanjutnya sampe bisa liat aurora. Udah gitu harganya lebih murah juga, sekitar Rp800ribu untuk bis dan Rp1.5juta untuk minivan.

Demikian lah ringkasan (yang panjang) liburan saya di Norwegia, tepatnya Tromso dan Lofoten Island. Semoga bisa meracuni menginspirasi kalian untuk liburan ke sana, baik yang mau melihat aurora maupun hanya menikmati keindahan Norwegia.

Ada yang udah pernah ke Tromso atau Lofoten Island juga? Punya tips yang bisa dibagikan supaya liburannya lebih menyenangkan (dan murah)? Oh ya, kalo kalian punya pertanyaan yang belum ada jawabannya di tulisan ini, feel free to let me know and I'll be glad to answer your questions!

13 comments:

  1. Serunyaa! Keep on sharing kak.Siapa tau sy juga bisa kesana someday hehe minus foto cable car aja nih

    ReplyDelete
  2. Fotonya keren keren buat wallpaper boleh kali ya

    ReplyDelete
  3. salah fokus ke koyo yang nempel di betis-_-

    ReplyDelete
  4. foto2nya bagus2 buanggetttt..mau ke norway jg..smoga terlaksana..amin:)

    ReplyDelete
  5. Suka bacain aja blognya ga pernah komen, tp postingan trip yg ini keren bgt kak jd pengen komen deh. Hehe top bgtt sukses terus jambu kebalik!

    ReplyDelete
  6. foto-fotonya cakep bener... boleh tau itu diedit ga ya?

    ReplyDelete
  7. Ky Air France CDG-OSLnya pesawatnya HOP! atau Joon? Hahahaha *lost focus*

    Anyway, seru banget!! Ahhhh, aku pengen banget nih ikut tour aurora gitu. Masih dalam bucket list. Tapi masih belum nemu jadwal dan tiket pesawat yang pas! Asyiknya KLM mulai ada codeshare domestik Norwegia sama Wideroe nih dari OSL, hahaha.

    ReplyDelete
  8. Racun banget ini sih bikin kepengen main ke Norway. Btw, itu pizza terbuat dari tepung emas kayaknya ya, mahal banget :(

    ReplyDelete
  9. Foto2nya kereeen banget!
    Oh ya eky, sori pertanyaan bodoh. Rice cooker gpp ditaruh bagasi selama penerbangan?

    ReplyDelete
  10. Assmlkm ww. Tks sdh.sharing. Sy jg punya pengalaman naik taxi mahal sekali. Dr airport ke Oslo hampir 6 juta (50Km) krn malam minggu.

    ReplyDelete
  11. Eky, kalo bawa rice cooker bakal ditanya2 sama petugas airport gak sih? Atau aman2 aja selama masuk bagasi? Btw, thanks infonya lengkap pisan! Langsung bookmark siapa tau next time bisa ke Norway juga, hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi ! ikut bantu jawab yaa !
      Kebetulan aku kemarin baru aja selesai europe trip selama sebulan di eropa.
      Dan kami bawa rice cooker,
      alhamdulillah selalu lancar dan sama sekali ga pernah ditanya ini itu soal rice cooker :D
      Btw rice cookernya di bawa di backpack gitu ya kalo aku

      Setuju sama Eky,
      masak itu solusi paling irit buat hemat biaya jalan jalan !

      Jangan lupa mampir ke blog ku ya www.mayangsesara.com

      Terima kasiih !

      Delete