Thursday, June 10, 2021

Review: Alila SCBD Jakarta | Hotel Bintang 5 Rasa Bintang 4 (atau Bahkan Bintang 3)

Dalam rangka mencoba hotel-hotel bintang 5 di Jakarta, pilihan staycation berikutnya adalah Alila SCBD yang tergabung ke dalam group Hyatt. Hotel ini merupakan hotel Hyatt group kedua di Jakarta setelah Grand Hyatt Jakarta.



Pre-arrival and Check-in
Seperti biasa, saya selalu mengirimkan email ke hotel sehari sebelum check-in untuk meminta early check-in dan kamar di lantai yang tinggi. Tim Alila SCBD membalas dengan cepat (kurang dari 1 jam setelah dikirim), namun tidak bisa memberikan konfirmasi early check-in. Namun mereka akan menghubungi jika kamar sudah siap. Jadwal check-in normal adalah jam 15.00, dan kala itu sekitar jam 13.00 saya dihubungi dan dikabarkan bahwa kamar sudah siap. Berhubung waktu itu jadinya saya punya acara, saya baru tiba di hotel jam 16.00.



Sesuai namanya, Alila SCBD terletak di Sudirman Central Business District, di dekat Pacific Place Mall. Terdapat graffiti besar di dekat pintu masuk.


Lobby hotel sangat sangat sepi namun saya senang karena jadi bisa foto-foto. Bagus banget lobby-nya! Sebelumnya pernah ke hotel ini untuk meeting di Artisan Bar dan langsung kagum dengan lobby-nya. 







Ketika check-in saya mencoba tanya okupansi hotel dan agent menginfokan bahwa malam ini dan malam sebelumnya sangat sepi. Hmm saya pun jadi bingung kalo sepi kenapa nggak bisa confirm early check-in.

Check-in berjalan lancar dan saya diberikan kamar di lantai 9.



Room




Saya memesan kamar jenis Studio King yang luasnya sekitar 36 meter persegi (388 sqft). Berdasarkan beberapa review yang saya baca di Tripadvisor, layout kamar di hotel ini berbeda-beda walaupun tipenya sama. 



Layout kamar saya tergolong unik namun cenderung aneh. Sebagai orang yang suka senderan di kasur, bentuk kasur kamar ini nggak enak banget karena headboard-nya rendah.






Kamar 911 memiliki pemandangan kota yakni Pacific Place Mall.



Pada sisi kasur tidak terdapat colokan yang proper, hanya tersedia colokan USB. Kalau mau pake colokan proper, harus cabut charger yang sedang dipakai untuk speaker atau telepon. Di samping kasur terdapat bluetooth speaker dari Marshall. Complementary mineral water di kamar pakai beling loh dan lumayan banyak. 2 di sisi kasur, 2 di lemari teh, dan 1 di washtafel. Thanks, Alila!





Di pojokan kamar terdapat sofa untuk 2 orang dengan coffee table. Untungnya ada colokan normal deket sofa jadi bisa saya pakai dengan tarik ke dekat dinding.



Di belakang kasur terdapat meja panjang yang menurut saya sangat tidak ergonomis. Kursi diletakkan di sebelah kanan, jadi menurut saya tamu di-expect untuk duduk di sana karena ada lampu baca juga.




Namun entah kenapa colokan itu adanya di ujung kiri, plus cuma ada 1 juga. Entah kenapa ini hotel banyak banget colokan USB-nya.


Udah gitu kursinya juga tidak ergonomis, apalagi buat hotel yang lokasinya di jantung bisnis Jakarta. Nggak ada roda, cushion tipis. Style over substance. Ngomongin style, design hotel ini kayaknya berusaha menggabungkan minimalis + homey + industrial, cuma rasanya kurang cocok. Jadi berasa nginep di hotel Novotel atau Mercure, bukan hotel bintang 5.


Speed wifi hotel ini juga bikin istighfar. Masa speed-nya nggak sampai 1 MB/s?! Hotel bintang 5 di SCBD loh ini!


Di kamar ada lemari berisi kulkas, coffee maker, minibar, serta teh dan kopi. 






Lemari lain terdapat di area kamar mandi berisi brankas, bath robe, gantungan baju, serta tempat untuk meletakkan koper.






Slipper hanya disediakan 1 pasang padahal saya pesan kamar untuk 2 orang. Heran sama hotel yang cuma nyediain 1 pasang slippers. Males tau telpon housekeeping untuk minta barang. Slippers-nya sendiri nyaman dipakai.


Di dalam shower room terdapat jenis rainforest dan handheld. Tekanan air menurut saya lemah, dan parahnya pada pagi hari air hangat tidak berasa sama sekali. Sebagai orang yang mandi di rumah dengan gayung, mandi dengan rainforest shower dengan tekanan tinggi dan air hangat adalah salah satu hal yang saya tunggu ketika staycation. Kecewa!



Toiletries berada di dalam dispenser dan tanpa merk, bukan botol kecil bermerk.


Toilet standar dengan bidet. Berhubung saya pernah coba toilet di kantor Google Indonesia yang terletak di kawasan SCBD juga, saya berharap toiletnya sama. Ternyata tidak, kawan-kawan.


Wastafel pun yang biasanya lempeng-lempeng aja masih ada yang menurut saya kurang. Rasanya leher washtafel-nya kurang panjang jadi susah dipake, plus airnya nyiprat banget karena cekungannya dangkal.



Walaupun tidak pernah menggunakan, namun saya tidak menemukan setrika dan papannya di kamar padahal saya merasa ini merupakan standar hotel bintang 5. Catatan lain untuk hotel ini adalah saya setuju dengan beberapa review yang saya baca mengenai soundproofing hotel yang jelek. Saya bisa dengar tamu lain menutup pintu bahkan berjalan di luar kamar. Bisa menjadi pertimbangan bagi kalian yang light sleeper.


Breakfast
Saya membeli kamar tanpa sarapan karena dua alasan. Pertama, selisih harganya lumayan jauh melebihi jika beli kamar plus sarapan secara terpisah untuk 1 orang. Harga sarapan sekitar Rp300.000-400.000 per orang. Alasan kedua adalah tempat sarapan dalam kondisi normal, Vong Kitchen, tidak beroperasi karena sedang dalam masa PSBB. Berdasarkan review yang saya baca, Vong Kitchen ini bagus karena jenis sarapannya adalah a la carte buffet alias dikasih menu sarapan lalu bisa pesan sepuasnya. Menunya pun menurut saya sangat lengkap dan tergolong mewah.


Sebagai gantinya, ketika check-in resepsionis memberikan selembar kertas berisi menu sarapan. Dengan harga normal, ingin rasanya saya menertawakan karena menunya seperti menu sarapan hotel bintang 3 atau bintang 4 dengan harga bintang 5. Btw kertasnya pun kertas re-use dari guest folio sebelumnya yang ada nama tamunya. Wow, privacy!


Facilities


Kolam renang terletak di lantai 5 dengan layout yang unik. Ada apa dengan layout unik di hotel ini..


Kolam utama terletak di salah satu sisi yang ukurannya tidak begitu besar. Sementara di sebelah kiri ada kolam anak dan (sepertinya) whirl pool dari bentukannya.




Gym juga terletak di lantai 5 dan menurut saya gym-nya bagus karena tempatnya luas dan alatnya banyak.





Ada spa juga yang tutup karena PSBB.


Berhubung sedang dalam masa PSBB, hotel menyediakan hand sanitizer di banyak tempat serta ada penanda social distancing di dalam lift.



Service
Ketika staycation saya lebih sering menghabiskan waktu di kamar sehingga tidak banyak interaksi dengan petugas hotel. Satu komentar saya tentang service adalah housekeeping yang sepertinya kurang teliti. Selain laundry bag yang tidak tersedia, awalnya teh dan kopi, bahkan teko pemanas air tidak tersedia. Karena berharap tehnya TWG, saya hubungi housekeeping untuk minta teh. Ternyata merk-nya bukan TWG, melainkan Havel.


Penutup
Staycation saya di Alila SCBD tergolong mengecewakan mengingat harga yang saya bayarkan. Dalam kondisi normal harga termurah adalah di atas Rp2juta tanpa sarapan. Saya sendiri memesan dengan harga Rp1,7juta. Dengan harga segitu, saya lebih memilih untuk staycation di Intercontinental Jakarta Pondok Indah, Mandarin Oriental, Grand Hyatt, atau lainnya. Bahkan saya lebih memilih Shangri-La karena walaupun hotelnya jadul, harganya lebih murah dan overall lebih baik. 

Untuk yang mau nonton review dalam versi video bisa nonton di YouTube berikut.

No comments:

Post a Comment